Meningkatkan Pelibatan Publik Dalam Pelestarian Warisan Budaya

Oleh : Agung Rai

Pelestarian budaya akan berjalan berkesinambungan jika berbasis pada kekuatan dalam, lokal, kekuatan swadaya masyarakatnya. Dukungan nilai-nilai berbagai pihak stakeholder, baik daya penggerak, pemerhati, pendukung, pemegang otoritas, dari berbagai lapisan masyarakat, dalam mewujudkan perilaku spesifik ini sangatlah potensial. Sebagai katalisator yang dapat memusatkan dan menggiatkan antusiasme, rasa bangga, dan komitmen budaya masyarakat, yang akan berimbas pada konsistensi eksistensi suatu tradisi budaya. Pencapaian idealisme ini perlu perjuangan dan pengorbanan.
Sangat ironis bila tradisi budaya yang sarat kearifan lokal diabaikan, apalagi dilecehkan keberadaannya, karena dianggap tidak memiliki relevansi dengan masa sekarang apalagi masa depan. Sementara di era tekhnologi canggih dewasa ini, semakin banyak bangsa di dunia kembali menggali nilai unggulan dari jejak sejarah peradaban yang relatif minim jumlahnya.
Nusantara sebagai bangsa dan kumpulan pulau memiliki jejak sejarah yang panjang bahkan zona-zona identitas ini integrated satu sama lain, seperti digambarkan dalam teks line sakaral “Bhinneka Tunggal Ika”. Di permukaan muncul dalam wujud spesifik dan unik dikenal adat-istiadat lokal, tidak lain karena pembentukkannya merupakan respon “hidup” selaras sesuai desa (tempat), kala (waktu) dan patra (kondisi) setempat. Setiap budaya lokal sarat muatan kearifan lokal. Tak keliru, kalau kita memuliakan negeri tercinta Indonesia yang kaya budaya, sebagai a super-grand living culture,
Sebagai bangsa yang kaya dengan waris budaya, kewajiban kita adalah memeliharanya dengan baik sehingga warisan nilai serta spiritnya secara konsisten meneruskan ke generasi masa depan. Adalah susuatu yang mutlak, menjadikan keanekaragaman budaya sebagai jembatan emas dalam memupuk rasa persaudaraan antar individu, masyarakat dan terciptanya sikap solideritas serta toleransi daerah dalam sebuah bangsa secara utuh. Semuanya meretas dari kesadaran sumber daya manusianya dalam memuliakannya jati diri ini selamanya demi kebermanfaatan bersama.
Membangun Pelibatan Publik Dalam Pelestarian: Membangun kepercayaan masyarakat berbasis kebermanfaatan bersama, dengan mengikutsertakan partisipasi masyarakat dilandasi mode simbiose mutualistis hingga peran mereka mendapatkan penghargaan layak, kehadiran mereka akan lebih bermakna, dan yang penting dalam sona ini motivasi pelestarian bisa ditumbuhkan. Melalui berbagai pendekatan, antara lain:
Pameran Seni, menyajikan keterpaduan “Man-made Arts dan Gifted Arts” .Tentunya daya tarik mendasar adalah citra koleksi karena sarat potensi seperti: culture-values, knowledge, culture experience dll. Potensi pencerahan budaya, bukan sekedar nilai keindahan visual tetapi keindahan isi, yang layak dimuliakan.
Membangun Jaringan Kemitraan, seperti:
Kemitraan Sekolah. Memfasilitasi kegiatan sekolah, dengan ketersediaan berbagai fasilitasi sarana prasarana belajar, termasuk ruang dan tempat berkreatifitas berujung pada kepedulian terhadap pelestarian budaya.. Kerjasama dikembangkan mulai dari sekolah PAUD, Taman Kanak-Kanak, SD, hingga Sekolah Lanjutan di lingkungan museum hingga luar, semuanya dilayani tanpa diskriminasi. Mengakomodir kegiatan edukasi melalui penyelenggaraan porseni kecamatan, olah-raga kelompok, study banding, riset, kompetisi budaya, pertunjukan seni siswa, dll. Sebuah pendekatan yang cukup efektif untuk menumbuhkan motivasi pelestarian
Kemitraan Budaya. Dalam upaya pelestarian, museum tidak harus berfokus pada benda koleksi in house saja atau lingkungan dalam saja. Karena pada kenyataannya sampai saat ini, lebih banyak benda warisan/kekayaan intelektual yang menjadi koleksi keluarga, situs sejarah yang kurang mendapatkan perhatian, yang kontinyuitas kelestariannya sebagian besar mengkhawatirkan.
Kemitraan Busines. Seiring perkembangan dunia pariwisata bukan sesuatu yang tabu memanfaatkan museum dan infrastruktur yang dimiliki untuk meraih pasar, tanpa melacurkan orientasi non-profit. Mesti kreatif membangun berbagai fasilitasi, sarana prasarana seni pertunjukkan, menjual paket pesta, pelelangan seni, seminar wedding party, dan agenda budaya lainnya dan memastikan himbauan pelestarian. melalui kegiatan diplomasi budaya ini terselip di dalamnya.
Selain Pendekatan Kemitraan, Pelibatan Publik Diraih Melalui:
Pentas Seni. Memperluas “membership museum” lewat rekrument kelompok pentas seni pertunjukan setempat. Pementasan seni pertunjukkan reguler merupakan upaya konkret dalam mempertahankan kontinyuitas tradisi seni tari masyarakat dimana dia tumbuh. Semakin menguatkan apresiasi yang bermuara pada wilayah hiburan saja, tetapi meluas ke wilayah pengabdian adat, agama setempat. Di era pariwisata, citra seni ini semakin merasuk ke ranah apresiasi di tataran wisnu maupun Wisman..
Pembentukan Sanggar Seni: Menitikberatkan proses pembinaan anak-anak bermental museum-minded sejak dini. Sebuah proses pembelajaran ini menyajikan suatu pemandangan fantastis di mata tourist. Disamping menyuguhkan entertainment memeriahkan untuk pesta, event budaya lainnya, anak-anak dimotivasi untuk siap mengamalkan ketrampilan di masyarakat. seiring dengan tumbuhnya rasa apresiasi dalam dirinya.

Program seni lukis, Artist in Residence. Menampung aktifitas komunitas seni lukis seni patung, dll. Menyediakan akomodasi, sarana /prasarana dll. bagi seniman ataupun mereka yang ingin mondok sambil berkreasi. Lingkungan alam menawarkan kesempatan luas bagi mereka untuk berinteraksi lansung dengan dengan alam pepohonan, sungai, sistem irigasi, sawah, arsitektur, performing art, karya lukisan pembanding, dan potensi lainnya tersebar di segala sudut. Dari wilayah ini penterapan pelestarian disisipkan,

Paket Budaya :
Culturalworkshop. Program cultureworkshop menawarkan pengalaman short-termed education, namun padat berisi, selain merasakan sensitifitas secara langsung seperti ketrampilan menari, menabuh, melukis, memasak, arsitektur, aset budaya baik material maupun non-material lainnya termasuk paket aktifitas keseharian petani tradisional dll yang jelas memberi kesan tersendiri. Dalam termin sempit ini sekitar 2 jam masing-masing atau lebih, terbuka peluang eksplorasi, improvisi, sampai pada proses forming/pembentukan budaya setempat, diharapkan merangsang sikap menghargai serta menghormati budaya itu sendiri. Dan masih banyak sumber materi menunggu digarap dengan benar

Wahana Publik Gathering. Menawarkan satu tempat/ruang luas dengan fasilitasi sarana/prasarana canggih untuk menampung berbagai kegiatan seperti: dinner party, wedding party, seminar, konferensi, pentas kolaborasi seni, baik domestic maupun internasional. Di-set up dalam suasana lingkungan alam pedesaan yang lestari, maka kesan pelestarian juga tersampaikan.

Jaringan Komunikasi Tidak Bisa Diabaikan. Museum dengan segala performanya mesti efektif dan efisien mengelola sistem pemasaran. Informasi berimbang, akurat dan benar mesti diwacanakan secara konsisten hingga menyentuh tidak saja masyarakat lokal tetapi meluas sampai tataran nasional maupun manca negara. Penerbitan buku panduan kunjungan museum misalnya, hanyalah sebuah hadiah kecil, namun mampu mendukung proses pembelajaran yang serta merta berimbas pada apresiasi.

Museum, Media Penguatan Pelestarian
Dalam persfektif pelestarian, “museum” berfungsi sebagai salah satu media culture yang paripurna, dan memiliki jaringan kerja luas. Idealnya, kehadiran lembaga pelestarian berbasis pada sistem nilai seperti sistem masyarakatnya, sistem ilmu-pengetahuan, sistem seni, mata-pencaharian, relegi, dsb sehingga menyatu dengan masyakatnya secara utuh. Eksistensinya kuat dengan dukungan “saham sosiokultural” masyarakatnya. Karenanya keterlibatan masyarakat seiring dengan tumbuhnya rasa kepemilikan, sekaligus kekuatan social kontrol masyarakat akan menyertai perkembangan privilege museum selaku lembaga pemuliaan budaya. Meneladani serta menularkan semangat pelestarian khususnya kepada generasi muda, pelajar, komunitas seni baik lokal, nasional maupun manca negara, melalui kegiatan budaya seperti pameran, agenda, pentas kolaborasi, dan perluasan fungsi cultural lainnya.. Semuanya diharapkan berdampak semakin melekatnya keterlibatan public. terlebih lagi konsen public terhadap isu pelestarian.
Harapan Museum: Museum bisa bersinergi dalam kerjasama tim dengan stakeholder sehingga swadaya pemuliaan berkelanjutan dapat dimudahkan. Juga dalam hal percepatan dalam pemahaman serta menanamkan prinsip-prinsip pelestarian dengan cara sederhana: sering-sering berkunjung, sharing pengalaman, pengetahuan, dll. melalui museum.

Berharap antusias masyarakat berkunjung ke museum semakin meningkat. Jangan sampai koleksi yang jelas memiliki potensi “potency active learning” yakni indah (something to see); mencerahkan (something to learn); memberi pengalaman unik (something to experience) akan kehilangan makna kebermanfaatan. Semoga!

Bali, April 2016
Agung Rai




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *