RAJA BOTI , NAMA BENU : “ ZAMAN BOLEH BERUBAH, KAMI TETAP HIDUP DENGAN TRADISI KAMI “

ntt-expos.com.Kupang 24 April 2017.

“ Jika kami melahirkan dua orang anak, maka yang satu boleh bersekolah dan membaur dengan orang luar Boti untuk membangun bangsa dan Negara, sedangkan yang satu harus tetap hidup dalam kampung untuk menjaga dan melanjutkan tradisi-tradisi asli suku Boti Dalam. Kepercayaan kami adalah Halaika, namun kami memiliki Tuhan Yang Maha Kuasa seperti Tuhanyanya orang beragama “ Hal ini diungkapkan oleh Raja BOTI, Nama Benu, yang terletak di kabupaten TTS Provinsi Nusa Tenggara Timur,  ketika diwawancarai wartawan , di Istananya, kampung Boti Dalam, pada beberapa waktu yang lalu.

Katanya, sepanjang perjalanan hidup, masyarakat Boti Dalam tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar hukum, oleh karena itu, tidak pernah ada orang Boti dalam yang   masuk penjara. Dan walaupun suku kami menganut kepercayaan Halaika, namun perbuatan-perbuatan kasih antar sesamea, senatiasa menghiasi sikap dan tingkah laku hidup kami sehari-hari.

Raja Nama Benu, melanjutkan, jika ada orang luar yang mencuri hasil bumi dan hewan kami, maka orang tersebut menurut kami masih sangat kekurangan hidupnya sehingga perlu segera dibantu  secara gotong royong agar orang tersebut bisa hidup lebih baik dan tidak mencuri lagi. Cara yang kami lakukan adalah apabila dia mencuri hewan maka kita harus memberikan dia tambahan hewan untuk dipiaranya, dan jika dia mencuri tanaman, maka orang tersebut kita bantu memberikan dia lahan dan menanam tanaman secara gotong royong lalu diberikan kepada orang tersebut untuk melanjutkan perkebunan itu demi kepenbtingan hidupnya.

“ Tidak boleh kita menganiaya atau menghukum orang yang mencuri, kita harus mengangkatnya dan membantu mengatasi kekurangan hidupnya. Itulah salah satu bentuk cara hidup kami”, ungkap Raja dengan serius.

Ditanya tentang tradisi-tradisi asli dan unik yang dimiliki masyarakat Boti, Raja Nama Benu mengatakan, tradisi yang masih tetap dilakukan sejak turun temurun hingga saat ini adalah, Upacara adat melindungi kehamilan dan meramal jenis kelamin bayi dalam kandungan yang disebut Ta Pe Fenu, upacara proses persalinan dan masa persalinan yang disebut  Lais Mahonit, upacara pemberian nama pada bayi yang disebut Na Kanab Liana, upacara cukur rambut anak yang disebut  Eu Nakfunu, upacara ikatan adat  menuju perkawinan yang disebut Mafet Mamonet, lalu ada upacara peminangan yang disebut Toif Bife, upacara ikatan perkawinan yang disebut Maftus Neo Mafet Mamonet, Upacara hidup berumah tangga yang disebut Monit Mafet Ma Monet dan yang terakhir adalah upacara bhakti kepada orangtua yang disebut Maka Upa Ncu Mnasi.

Lewat media ini, Raja Nama Benu, mengharapkan, semoga budaya-budaya asli yang dimiliki masyarakat Boti Dalam, mendapat perhatian dan dukungan serius dari pemerintah, sehingga kelesatariannya tetap terjaga secara turun temurun. ( NTTEXPOS.002).

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *