RAKYAT PILIH PEMIMPIN KARENA UANG, SENGSARA 5 TAHUN !

SALAM REDAKSI, ntt-expos.com.

 Gendang Pemilukada Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Pemilukada di 10 kabupaten se NTT mulai  terdengar bergema nyaring di seantero bumi Flobamora. Ucapan-ucapan manis dan elok bagaikan syair-syair pujangga, diungkapkan oleh para kandidat, yang dilakukan     dari satu tempat ketempat lain dari satu titik ke titik lainnya, dari satu kabupaten ke kabupaten lainya dan dari satu kelurahan ke kelurahan lain, yang tentu inti isi syair-syair itu adalah menjanjikan pembaharuan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Para kandidat pun dengan gagah perkasa, mengatakan akan berjuang  untuk menekan,mengurangi bahkan menghapus paraktek KKN dalam penyelenggaraan pemerintahan, katanya, karena korupsi,kolusi dan nepotisme itu dirasakan telah merusak tatanan kehidupan bersama sebagai masyarakat maupun sebagai bangsa Indonesia. Jadi KKN harus di berantas!

RAKYAT TAHU, DALAM DIAM RAKYAT HANYA BERHARAP CEMAS

Rakyat juga sudah sangat tahu akibat dari KKN dan mengalami sendiri sulitnya hidup yang dijalani, namun para kandidat tetap saja dengan lantang berkata bahwa praktek korupsi telah menyebabkan krisis ekonomi yang menyebabkan penderitaan panjang dalam bentuk pengangguran meluas karena terbatasnya lapangan kerja dan lapangan berusaha, nilai uang tidak berarti lagi untuk dibelanjakan, banyak anak putus sekolah karena ketiadaan biaya, banyakibu hamil dan balita kurang Gizi yang mengalami kematian dan masih banyak lagi persoalan yang terjadi dalam masyarakat.

Para kandidadt Balon Bupati maupun Balon Gubernur,  bersama tim suksesnya, berupaya keras untuk menarik simpati semua lapisan masyarakat, agar kemudian  bisa memenangkan pemilihan , kalau tidak,  biaya – biaya yang dikeluarkan akan menjadi sia-sia belaka. Soal nanti bisa memberantas KKN atau tidak, soal bisa mengatasi penderitaan rakyat atau tidak, itu urusan nanti, menang dulu baru diatur.

Mendengar dan menghadiri sosialisasi-sosialisai para kandidat andalan  diberbagai titik pertemuan, yang selalu mengumbar janji-janji hebat untuk perbaikan nasib rakyat,  maka rakyat NTT pun dengan harap-harap cemas menanti hasil pilkada bupati maupun gubernur 2018, bisa melahirkan pemimpin yang mampu  menyelamatkan mereka dari penderitaan hidup atau minimal bisa mengurangi kesengsaraan hidup mereka secara perlahan-lahan. Apakah harapan rakyat ini bisa tercapai ?.

Sebagai gambaran, marilah dengan jujur,  kita coba amati secara cermat hasil pemilu ke pemilu dari masa lalu hingga sekarang ini. Dari Pemilu ke Pemilu,  baik dari masa Orde Baru hingga sekarang ini,  maka kita akan menemukan begitu banyak persoalan yang akhir-akhirnya juga, membuat rakyat kecil terkungkung dalam penderitaan hidup.

KKN SULIT DI HAPUSKAN, RAKYAT TETAP MENDERITA

Pemilu ke Pemilu, dari satu Pilkada ke Pilkada berikutnya, harapan rakyat  adalah supaya pejabat politik baik di Eksekutif maupun Legislatif dapat menekan bahkan dapat menghapus praktek KKN dalam penyelenggaraan pemerintahan, dalam penyelenggaraan Negara.  Namun ternyata praktek KKN terutama praktek Korupsi semakin merajalela, dengan demikian tambah memperpanjang krisis ekonomi, sekali lagi rakyatlah yang menanggung penderitaan.

 Kalau dicermati secara mendalam lagi, maka dapat dirasakan bahwa jabatan-jabatan politik yang diraih melalui Pemilu, Pilkada,  baik di tingkat Eksekutif Maupun di tingkat Legislatif tidak digunakan secara bertanggungjawab untuk mengabdi pada martabat manusia (rakyat) yang telah menyerahkan kedaulatan melalui Pemilu dan Pilkada.

Nasib rakyat tetap  memprihatinkan,tak mengalami perobahan yang diharapkan. Rakyat dapat menyaksikan parpol berjalan sendiri, fraksi di lembaga legislatif berjalan sendiri dan rakyat pun berjalan dengan deritanya sendiri. Sepertinya tak ada mata rantai yang mempertautkan ketiganya menjadi satu kesatuan yang kompak dan utuh dalam perjuangan politik membangun rakyat, bangsa dan Negara.

KENAPA SEMUA INI TERJADI ?

 Karena Partai Politik pada umumnya terasa belum Fungsional. Partai Politik pada umumnya, terutama yang memiliki kontribusi keanggotaan dalam Legislatif maupun jabatan politik di tingkat Eksekutif  terkesan belum melaksanakan fungsifungsinya secara benar.

Kepemimpinan Partai  Politik terkesan belum membingkai perilaku para anggotanya terutama yang mengisi jabatan-jabatan Politik dengan seperangkat nilai yang dihayati bersama, akibatnya, masing-masing anggota berbuat sesuai selera, bahkan tidak jarang terjadi saling berbenturan kepentingan pribadi, mengurus diri sendiri ketimbang memberikan perhatian merumuskan kebijakan-kebijakan guna memperbaiki kondisi kehidupan rakyat nya.

Para Kandidat jadi dermawan mendadak, pemilu pun terasa kurang bernilai. Selain tak ada nilai-nilai yang dihayati bersama yang membingkai jejak langkah politik, juga karena jabatan politik itu dibeli dengan uang dan barang oleh para calon Legislatif maupun oleh calon Eksekutif dengan cara pura-pura menjadi dermawan yang murah hati sesaat.

Disinilah Hukum Dagang berlaku, hukum jual beli terjadi. Rakyat diberi uang atau barang, sang caleg atau sang Kandidat kepala daerah mendapatkan Jabatan Politik, maka terjadilah proses beli putus. Hubungan antara rakyat dan wakil rakyat yang duduk di Legislatif maupun di pemerintahan pun terputus selama 5 tahun.

KENAPA ?

karena penyerahan kedaulatan oleh rakyat bukan atas dasar kepercayaan, melainkan karena permainan uang. Untuk itu rakyat harus menegakkan harga diri, menegakkan martabatnya sendiri.

Rakyat jangan menggadaikan harga diri pada uang dan barang yang terkesan mendadak sesaat, yakni mendapati sesuatu sesaat tetapi  kemudian tidak punya apa-apa selama 5 tahun, karena tak diperduli  lagi oleh orang-orang yang mewakilinya di Legislatif maupun di Eksekutif.

Jika kita memiliki iman yang baik tentu kita akan sadar  benar bahwa melaksanakan politik adalah melaksanakan karya kerasulan. Karena menyadari benar bahwa  berpolitik adalah melaksanakan karya kerasulan, maka setelah menjadi seorang pejabat di Legislatif maupun  di Eksekutif, tentu kita selalu dan senantiasa akan mau berbuat yang terbaik untuk meringankan dan mengangkat kehidupan rakyat kecil menuju sejahtera. Selamat mengikuti Pilbup dan Pilgub 2018 nanti. Salam Redaksi.

 




One thought on “RAKYAT PILIH PEMIMPIN KARENA UANG, SENGSARA 5 TAHUN !

  1. Pius H Toa

    KRISTO BLASIN adalah Calon Pemimpin dari Generasi Muda. Dukungan warga NTT kepadaNya, harus ada Kontrak Politik (Tidak Korupsi, Tidak membiarkan antek2 FPI masuk baik melalui Partai Politik maupun Organisasi Masa. Contoh Jakarta dengan menghembuskan Isu Agama di mesjid2 akhirnya orang yang berbobot seperti BASUKI THAHAYA PURNAMA harus tersingkir darii kursi Gubernur sekalipun Dia adalah seorang Gubernur yang berhasil). Selamat berjuang Saudara/ri ku di NTT.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *