Romantika Wanita Menikah Tanpa Cinta (1)

Aku Sebenarnya Ingin Melanjutkan Sekolah
TETY (bukan nama aslinya) kini tengah dirundung duka. Setelah diancam suaminya, ketiga anaknya mendapat ujian. Si cikal stres berat dan adiknya menderita lumpuh. Sementara si bungsu kini diasuh kekeknya. Wanita asal sebuah desa di Kabupaten Bandung itu kini berdiam diri di rumah pamannya di Jakarta. H. Undang Sunaryo mengisahkan.

SETELAH lulus SMP aku menikah dengan Kang Dadang (bukan nama asli), salah seorang karyawan salah satu bank pemerintah. Pernikahanku pada tahun 1975 bukan atas dasar cinta, melainkan karena dipaksa kedua orangtua. Pada waktu itu aku belum mengenal cinta. Cita-cita ingin meneruskan ke SMA dan ingin kuliah.

Ya, mungkin karena sudah takdir, aku terima semua kenyataan itu dan jadilah aku seorang ibu rumah tangga, istri seorang karyawan bank. Padahal selama berumah tangga dengannya tak seperti apa yang dibayangkan orang sebagai suami istri yang penuh cinta dan kasih sayang.

Mau bagaimana aku bisa menaruh cinta pada suamiku? Dia itu pendiam, bicara seperlunya, dan kerja di kantor tak pernah mengenal waktu. Pergi pagi pulang sore terkadang tengah malam. Sementara aku termasuk periang, suka bercanda, dan senang bergaul dengan sia pun.

Jika ada kegiatan Dharma Wanita dan aku ikut latihan menyanyi, akulah yang paling duluan bernyanyi dan mengajak teman-teman untuk berjoget ria. Orang-orang di kantor banyak yang menjulukiku si Ganjen. Ah, bagiku tidak masalah karena aku tidak berlebihan, aku masih tetap tahu batas.

Meski aku dikenal sebagai ibu ganjen, Kang Dadang tak pernah tersinggung. Mungkin karena dia sudah memahamiku. Aku juga tak pernah usil Kang Dadang pulang malam atau terkadang kerja lembur hingga bermalamn di kantor. Ya, untuk mengusir rasa kesepian aku biasa bernyanyi karaoke di rumah.

Di satu sisi aku salut pada Kang Dadang. Ia termasuk orang yang ulet, baik dalam melaksanakan tugas di kantor maupun mencari peluang bisnis. Dia bisa membelikanku sebuah rumah toko (ruko) di pinggir jalan raya yang sangat strategis. Dengan demikian aku punya kesibukan untuk mengisi waktu luang sambil memanmbah penghasilan keluarga. Aku diberi modal usaha untuk berjualan meubeler dan peralatan rumah tangga.

Dengan kesibukan berjualan meubeler, akhirnya aku mampu membatasi diri, tak seperti dulu senang bermain dengan teman. Bahkan sebaliknya teman-teman dan para istri karyawan bank banyak menjadi relasi bisnisku. Kang Dadang senang melihat aku sibuk di toko. Apalagi usahaku setahap demi setahap mengalami kemajuan.

Dari hasil jualan meubel, sebagian kutabungkan di bank. Sementara untuk hidup sehari-hari mengandalkan uang gaji dan penghasilan luar suami. Itu pun banyak sisanya. Dengan demikian selama empat tahunan bisnis, hasilnya aku sudah mampu membeli sebuah rumah permanen di pinggir jalan raya di pusat kota.

Rumah tersebut aku kontrakan kepada pemilik sebuah kontraktor. Lumayan uang dari hasil rumah kontrakan bisa menambah modal usaha. Bukan hanya rumah baru, kami juga mampu membeli sebuah mobil sedan, sepeda motor, dan sebagian uang kudepositokan di bank.

Sepuluh tahun aku berumah tangga dengan Kang Dadang, secara ekonomis banyak kemajuan, bahkan lebih dari cukup. Namun jujur saja aku tetap merasa kesepian, aku merasa belum mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya. Aku bagaikan perempuan yang belum menikah, seakan masih belum menjadi ibu rangga. Padahal aku sudah dikaruniai tiga orang sang buah hati. Dua putra dan seorang putri. Mereka sangat tampat dan cantik. Mungkin wajahku menurun pada mereka.

Entah kenapa, semakin lama berumah tangga, hatiku semakin tak suka pada Kang Dadang, padahal aku sama sekali tak punya pilihan lain, tidak punya selingkuhan. Meskipun aku dikenal suka bergaul, aku tahu betul batas-batas pergaulan. Sebagai seorang istri aku tidak mengkhianati suami, tetapi aku tidak mengerti, kian hari hatiku semakin merasa kosong dan semakin tidak suka pada Kang Dadang.

Akhirnya aku berpikir ingin berpisah dengannya. Percuma saja kami menikah dan berada dalam satu rumah tetapi aku tidak pernah mendapat kasih sayang, kami tidak sejalan. Seandainya aku menjanda, keadaanku jadi jelas. Kalaupun tidak mendapat kasih sayang karena memang aku tidak mempunyai suami. Aku bisa mengisi kekosonganku dengan aktivitas di toko. Sayangnya, lidah ini kelu. Sulit sekali untuk mengungkapkannya.

Selain itu ketiga anakku sejak kecil lebih dekat pada ayahnya. Ya, mungkin karena aku terlalu sibuk mengurusi bisnis di toko, mereka kesehariannya selalu diasuh pembantu. Setiap hari libur, mereka sering diajak ayahnya pergi ke tempat wisata seharian penuh sementara aku tidak pernah diajak karena sibuk di toko. Hatiku sebetulnya menangis, aku semakin kesepian. Sudah kehilangan belai kasih suami, kehilangan pula kehangatan dari anak-anakku.

Suatu saat keinginanku untuk bercerai dengan Kang Dadang kulontarkan pada orangtuaku. Alasannya karena aku ingin hidup mandiri, ingin membalas kasih sayang pada orangtua dengan rejeki yang aku miliki dari hasil keringat bisnisku itu. Mendengar itu ayah dan ibu malah marah. Mereka tidak mau mendengar ucapanku itu terlontar dari mulutku.

“Kalau kamu tidak bersuamikan Dadang, mana mungkin kamu bisa seperti ini? Bersyukurlah kepada Allah atas kemurahan-Nya sehingga kamu jadi orang kaya raya. Jangan sesekali punya cita-cita jelek seperti itu!” kata ayah.

“Habis bagaimana, sejak dulu sampai sekarang aku tak cinta pada Kang Dadang, Pak. Aku ingin menjanda saja!”

“Istigfarlah, Nak! Kok kamu berpikir seperti itu?” bentak ayah.

Lalu kupaparkan alasanku pada ayah dan ibu. Aku dinikahkan oleh ayah dan ibu secara paksa. Lalu selama berumahtangga, Kang Dadang selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak ada waktu untuk membagi kasih sayang denganku. Pulang kerja lalu tidur karena kecapaian. Pagi-pagi bangun kemudian pergi ke kantor.

“Aku butuh kasih sayang suami, Pak!” kataku. (bersambung).

Sumber : Kisah Nyata.Blogspot.com




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *