ATLIT KARATE “ MENI OME “, MERASA DIRUGIKAN ?

NTT-EXPOS.COM.Kupang,04/07/2015
Meny 3“ Saya selalu ikuti pertandingan-pertanding diberbagai Iven untuk membawa nama Kota Kupang dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dulu, sewaktu saya masih di perguruan yang lama, prestasi saya berjalan normal sesuai kemampuan fisik dan teknis yang saya miliki. Namun ketika saya pindah perguruan, selalu saja ada upaya untuk menjatuhkan prestasi saya, dalam berbagai Iven tingkat Kota Kupang. Saya merasa kecewa, dan selalu bertanya dalam hati, mengapa ini bisa terjadi ?, padahal prestasi yang saya miliki hanya ingin mengharumkan nama Kota Kupang maupun nama Provinsi NTT tercinta “. Hal ini diungkapkan oleh Atlit Karate berprestasi Daerah Maupun Nasional, Meny Ome, ketika ditemui wartawan Media ini, beberapa waktu lalu.

Lewat Media ini, Meny Ome ( 17 tahun), mengatakan, walaupun secara fisik dan teknis dia memenuhi sarat untuk mengikuti pertandingan tingkat Nasional membela NTT, namun selalu ada upaya oknum-oknum tertentu dari kepanitiaan untuk menggagalkan keikutsertaannya, dengan alasan yang tidak masuk akal.

Begitu juga apabila mengikuti pertandingan tingkat Kota Kupang, ada juga upaya-upaya oknum tertentu agar dirinya tidak dalam pertandingan. Padahal dirinya selalu memberikan Emas, perak dan Perunggu bagi daerah Nusa tenggara Timur dan Kota kupang lewat prestasinya dibidang Karate tersebut.

Hal yang paling kelihatan, saat pertandingan Final pada Kejuaraan OSNI baru-baru ini adalah, nilai yang diberikan oleh para Juri, tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Cebagai Contoh, ketika dirtinya memukul masuk dan harusnya memiliki Point, namun bendera tidak diangkat oleh para Juri. Sedangkan pihak lawan yang hanya menahan pukulan dari dirinya, diberikan point diluar aturan penilaian.

Dengan cara penilaian yang miring tersebut, akhirnya dia harus berada pada urutan kedua dalam kejuaraan dikelasnya itu. Katanya Meny, bukan soal bisa juara atau tidak, tetapi soal kenetralan para juri yang memberikan penilaian harus secara aturan yang proporsional dan professional.

Menurut Meny, jika para Juri menilai secara professional berdasarkan Fakta, maka apabila dirinya harus kalah, dia akan puas dan mengakui kemampuan lawan, karena lawan lebih unggul dari dirinya. Namun, jika sejal pertama sampai akhir, dirinya banyak memasukan pukulan-pukulan yang bernilai dan menguasasi pertandingan, kemudian, para Juri tidak mengangkat bendera tanda pendapatan nilai, maka, ketidak adilan tampak begitu terbuka dan transparan diketahui oleh semua orang. Pertanyaan yang timbvul adalah, apakah Para Juri itu benar-benar netral dalam menilai ?.

Jika para Juri tidak Netral, atau, memang tidak professional, harusnya tidak boleh dipercayakan untuk menjadi Juri Pertandingan. Kalau dipaksakan menilai, maka akan menimbulkan kekecewaan pada para Atlit yang bertanding, dan hal ini akan mematahkan semangat para Atlit untuk berjuang terus dan mengukir prestasi terbaik bagi daerah dan provinsi NTT tercinta.

Lewat Media ini, Meny, berharap, agar Pemerintah yang berwenang dibidang Olahraga,khususnya olah raga Karate, perlu mengambil langkah-langkah serius tentang perwasitan dan penjurian, sehingga adanya kenetralan dalam penilain-penilaian pertandingan karate. Kalau tidak para atlit yang berprestasi akan tenggelam dan lambat laun menghilang dari permukaan, ungkap Meni, dengan sesal, mengakiri perbincangannya dengan Wartawan Media ini.     ( NTT-EXPOS.003).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: