ATRAKSI BUDAYA ASLI DESA PAUTOLA-NAGEKEO : “ MENARI DIATAS BARA API DENGAN KAKI TELANJANG !!! “

ntt-expos.com. Liputan Khusus Wartawan Jessie dan Andre, Juli 2016

 ( Dari Desa Pautola- Negekeo-Flores oleh Wartawan Jessie dan Andre )

 BAGIAN PERTAMA : RITUAL ADAT “ BELE WO “

berita injak bara api 2Riuh suara teriakan seluruh warga dari dua keluarga besar Suku PAU dan Suku TODA, memecah kesunyian malam di lembah Desa Pautola-Nagekeo-Flores. Para Lelaki dan Wanita melompat-lompat sambil bernyanyi dan menari-nari di atas api arang yang membara. Kabut tebal yang menutupi kampung Pautola, menambah seramnya suasana ditengah malam itu.

Dan beberapa menit kemudian, arang-arang membara itupun mati dan menjadi debuh yang menyatu dengan bumi kampung Pautola. Para Tua-Tua adat yang memakai ikat kepala merah melompat-lompat kegirangan sebab kumpulan bara api tersebut dapat dimatikan hanya kurang lebih 3 menit saja.

Ribuan warga suku yang menyaksikan atraksi budaya tersebut berteriak-teriak nada kemenangan sambil bertepuk tangan yang meriah. Percikan-percikan embun dinginpun tampak berjatuhan satu persatu mengakhiri atraksi  menginjak bara api denghan kaki telanjang tersebut.

 

Menginjak dan mematikan Bara Api hingga hancur lebur menjadi debuh, melambangkan kemenangan dalam injak api 4mengatasi berbagai tantangan hidup yang dialami warga Pautola dalam setahun menjalani kehidupannya sebagai petani, sebagai peternak dan perkebunan .

Walau menginjak bara api dengan kaki telanjang, kaki-kaki mereka tidak terbakar atau memar sedikitpun. Hal ini memang sungguh aneh tapi nyata terjadi, seperti yang disaksikan langsung oleh Tim Wartawan Exodus Pos di arena kegiatan tersebut.

Menurut pengakuan Tokoh Adat, Marthinus Ora, sebelum melakukan Tarian Bele Wo, para tua-tua suku, terdahulu melakukan ritual khusus untuk meminta perlindungan Sang Maha Kuasa lewat para leluhur mereka, sehingga disaat menginjak bara api, kaki-kaki mereka tidak terbakar oleh arang yang membara. “ Inilah salahsatu tradisi keramat yang dimiliki oleh suku Pau dan Toda di desa Pautola, yang telah berjalan turun- temurun sejak jaman dahulu”, ungkap Marthinus.

 

100_1037Marthinus melanjutkan, Desa Pautola memiliki dua suku besar, yakni, Suku Pau dan Suku Toda, yang memiliki 10 Ana Susu atau 10 anak-anak suku mereka. Kesepuluh anak suku mereka, memiliki hubungan yang erat dan sulit dipisahkan. Kedua Suku besar ini, selalu menjaga keaslian tradisi-tradisi mereka agar tidak ternoda dengan pengaruh jaman yang semakin modern ini.

Dia melanjutkan, setelah Menginjak Bara Api, maka akan dilanjutkan dengan Atraksi budaya paling keramat, yaitu, Sepak Api atau dalam bahasa adatn Pautola “ Sepa Api”. Bersambung……

(NTTEXPOS.002/003. JESSIE & ANDRE )

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: