BUDAYA KURE DI NOEMUTI KOTE : BAGIAN SATU “UNIK DAN SAKRAL “

Oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT bersama Wartawan NTTEXPOS.Com

Ntt-expos.com. Liputan Khusus. Budaya Religius di TTU. Tgl.22 sampai 28 Maret 2016.

“ Bunyi Motor Roda Dua memecah ruang sunyi diperjalanan memasuki kampung Kote di pagi hari yang cerah. Sesekali terdengar siul burung sambut menyambut dan kokok ayam dari kejauhan. Bunyi air sungai kecil percak-percik mengalir di atas pasir dan bebatuan bulat. Kali ini mengelilingi wilayah kampung kote. Tim melewati jembatan panjang dan berjalan terus memasuki perkampungan Kote yang dibatasi dengan gapura kecil. Tim mengelilingi wilayah Kote lewat jalan lingkar luar mengelilingi perumahan penduduk. Lingkar Utara sepanjang kurang lebih 4 kilometer yang berbatasan dengan Kampung Banfanu, lingkar Barat sejauh kurang lebih 4 Kilometer berbatasan dengan kali besar, sedangkan lingkar Selatan dan Timur sejauh kurang lebih masing-masing 3 kilometer yang berbatasan langsung dengan kali besar. Tampak beberapa warga memikul bakul yang berisi buah-buahan sambil memegang tebu ditanganya, berjalan memasuki rumah suku mereka masing-masing yang berada mengelilingi Gereja Tua berumur Ratusan tahun peninggalan Misionaris Portugis. Wilayah kote ini adalah wilayah yang ratusan tahun silam menjadi benteng pertahanan bangsa Portugis melawan Belanda. Tim lalu memperkenalkan diri kepada tetua-tetua adat suku tentang maksud kedatangan mengikuti Tradisi Kure yang bersamaan dengan perayaan Paskah umat di Noemuti yang berpusat di Kampung Kote “.

TETUA ADAT,YOSEPH NAMO SALEM : DIAWALI DENGAN PEMBERSIHAN HATIIMG_3335 - Copy

Kepada wartawan Media ini, dan dihadapan Tim Dinas P&K Bidang Kebudayaan NTT, tetua adat Yoseph Namo Salem menuturkan, mengawali masuk pada perayaan hari Paskah, seluruh umat melakukan pembersihan barang-barang kudus devosional berupa Salib dan Patung Suci Bunda Maria, Patung Santo Antonius Padua dan Relikwi Kudus, yang adalah peninggalan misionaris Portugis ratusan tahun silam, yang berada dalam rumah-rumah suku yang ada di Kote. Pembersihan dilakukan dengan Air yang diberkati Imam yakni Pastor kemudian dibersihkan dengan Air Tebu. Dilakukan dengan Air sebagai lambangan kemurahan dan kasih dari Tuhan lewat Air Kehidupan bagi manusia. Di bersihkan lagi dengan air Tebu yang Manis sebagai ungkapan kasih sayang manusia terhadap Tuhan maka manusia harus memberikan yang termanis dari hidupnya buat Tuhan yang rela mati dikayu Salib karena Dosa yang dibuat manusia. Menurut Yoseph, manusia harus memberikan kepada Tuhan hal yang termanis yang dilambangkan dengan Air Tebu hasil karya Manusia. Pembersihan barang-barang kudus juga disertai dengan sikap Pembersihann Hati setiap orang yang akan merayakan Paskah Kudus. Air sisa pembersihan Barang Kudus, diyakini bisa menghalau segala bentuk pengaruh negatif roh-roh jahat dan mampu menyembuhkan berbagai penyakit, sehingga air tersebut langsung dipakai membersihkan wajah seisi rumah yang ada, sisanya disimpan di rumah suku untuk dipakai sesuai kebutuhan. Pembersihan wajah, kaki dan tangan tangan dengan air tersebut untuk membersihkan manusia dari dosa pikiran, dosa perbuatan karena kelalaian. Istillah ini dinamakan secara adat yaitu “ Manikin Oetene “, yakni air membawa kedamaian.

Yoseph, menuturkan lagi, setelah dilakukannya pembersihan barang-barang kudus, maka pada malam harinya, ditandai dengan lonceng gereja berbunyi, warga mematikan lampu dan keluar rumah lalu memukul-mukul rumah mereka sambil bertepuk tangan, dengan teriakan “ Poi Ri Rabu “ yang artinya enyalah roh jahat. Hal ini dilakukan oleh penghuni rumah “Ume Usi Neno “. Ume Usi Neno adalah, rumah penyimpanan barang-barang suci milik suku-suku asli.

TETUA ADAT, MINGGUS MEOL : BUA LO’ET DAN BUA PA

IMG_4522Tim Pun berkunjung ke rumah salah satu Tetua Adat Kote, yaitu, Minggus Meol. Minggus Meol menuturkan bahwa, Bua Loe’et, adalah haisl buah-buahan dari seluruh warga yang dibawa dan dimasukan pada setiap rumah suku “ Ume Mnasi “ yang menyimpan “Usi Uis Neno” atau barang kudus milik Tuhan. Bua Pa, adalah sirih pinang, dan juga dibawakan Tebu kedalam rumah suku. Katanya, hasil bumi adalah karya nyata tangan manusia oleh berkat Tuhan, yang dipersembahkan kepada Tuhan untuk kesejahteraan hidup setiap orang. Buah-buahan, sirih pinang yang dimasukan dalam rumah adat, akan diberikan kepada setiap orang yang datang berdoa prosesi pada setiap rumah-rumah suku, sebagai lambang kebersamaan untuk merasakan apa yang diperoleh dari hasil pertanian oleh pemberian Tuhan Maha Kuasa.

Kata Minggus, prosesi bergilir oleh warga umat, dari satu rumah suku kepada rumah suku lain, adalah lambang memuji-muji Tuhan lewat Doa karena telah diberikan berkat berlimpah berupa buah-buahan dan makanan yang diperoleh selama setahun. Dan hal ini dilakukan setia tahun yang menyatu dalam perayaan Paskah Gereja Katolik. Hal ini telah dilakukan secara turun temurun oleh warga.

Minggus, menambahkan, waga yang melakukan prosesi ini adalah warga dari setiap suku-suku dan anak-anak suku yang berada di Noemuti, baik yang berada di berbagai Lokasi TTU, dan berada di Kota-kota lain dalam pulau Timor maupun luar pulau Timor.

Semua orang yang berasal dari suku-suku yang ada di Noemuti Kote, pasti datang dan hadir melakukan prosesi, sebagai suatu kebersamaan hidup bersuku dan beragama, memuji dan mensyukuri pemeliharaan dan kasih Tuhan pada setia mereka.

DUA TOKOH MUDA KOTE : BERAKHIR DENGAN RITUAL SEF MAU

IMG_4641Tim Bidang Kebudayaan Dinas P & K Provinsi bersama NTTEXPOS.Com, beranjak dan menemui Tokoh-Tokoh Muda Kote, yakni, Frengky Bana dan Viktor Mambait. Kedua Tokoh Muda Warga Kote, menjelaskan bahwa, setelah melakukan Kure pada kamis malam, maka pada pagi harinya, dilakukan Jalan Salip Hidup yang melibatkan para kaum muda katolik dan seluruh umat se paroki hati Kudus Yesus. Tokoh-Tokoh Muda aktivis Gereja ini mengatakan lagi, jalan salib dilakukan mengelilingi Desa KOTE, yang berawal dari jembatan masuk Kote dan berakhir di Gereja Hati Kudus Yesus.
Dijelaskan oleh Keduanya, setelah Misa Paskah,para muda-mudi katolik melakukan kegiatan-kegiatan hiburan kesenian tari dan Gong serta Abtraksi bela diri THM. Hal ini dilakukan sebagai tanda berbahagia karena kebangkitan Tuhan Yesus dan kesiapan kaum muda Katolik dalam menjaga keutuhan dan ketahanan umat dalam hidup menggereja.
Setelah selesainya seluruh rangkaian Perayaan Paskah, warga mulai membuka dekorasi-dekorasi yang ada disetiap rumah suku, mencabut bambu-bambu yang dijadikan obor menerangi prosesi kamis malam, lalu dibuang ke sungai untuk dibawa pergi oleh air yang mengalir. Ritual ini dinamakan “ Sef Mau “, yang berarti, membuang segala sisa-sisa kotor yang ada dalam hati setiap orang untuk dibawa pergi oleh air. ( NTTEXPOS.COM. BERSAMBUNG…… ).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: