BUDAYAWAN KABUPATEN BELU, PIUS FAHIK : ANGKAT BICARA ! “ UNIKNYA TARI LIKURAI TIDAK DIMILIKI TARI LAIN DIMUKA BUMI ! “.

BAGIAN PERTAMA :
ARTI PUKULAN SERAN AMA LAU TAEK, KOLO IKUN BA SA !

NTTEXPOS.COM.Editorial.Mei 2016.

Pius Fahik 1

Para gadis-gadis cantik zaman dulu, meliuk-liuk memukul gendang kecil yang dijepit diketiaknya, mengiringi para pahlawan perang dari pinggir perkampungan yang kembali membawa kepala musuh, lalu kemudian kepala itu diletakan diatas sanda, lalu para pahlawan mengacungkan pedang dan memenggal kepala itu berkali-kali hingga hancur berkeping-keping. Para penari membunyikan gendang ( Tihar) dengan irama semnangat mengakhiri ritual pemenggalan kepala musuh yang paling disegani, yang dibawa dari medan perang. Tari Likurai ditarikan oleh para penari dengan bunyi music gendang yang dipukul oleh para penari sendiri, sedangkan kalau Tari yang lain, para penarinya menggerakan badan dan kaki sesuai bunyi music yang dimainkan oleh orang lain, yakni dari orang diluar penari. Inilah salah satu keunikan Tari Asli Masyarakat Kabupaten Belu. Pukulan-pukulan Gendang Tari, juga memiliki nama dan artinya masing-masing, hal ini menambah unik karena tari lain tidak memiliki hal seperti ini.

Menurut Budayawan Belu yang sangat berpengalaman ini, dari ceritera tuturan turun-temurun leluhur Belu, awal mula tari likurai ini dilakukan untuk mengundang kehadiran Sang Penguasa Langit dan Bumi, datang menyaksikan, memberkati dan menyucikan acara-acara ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat Belu.

Untuk mengundang Kehadiran Sang Penguasa Langit Bumi ini dilakukan pukulan Gendang Tihar, yang diberi nama Pukulan “ SERAN AMA LAU TAEK “.

Menurut ceritera masa lalu, pukulan ini dilakukan olehg seseorang anak bernama Seran untuk memanggil kehadiran ayahnya yang bernama Lau Taek. Lau Taek adalah seorang Ayah yang disegani, yang amat berkuasa atas segala yang ada.

Kemudian lewat perjalanan waktu, diartikan oleh rakyat Bellu bahwa, Lau Taek adalah Sang Penguasa Langit Bumi yang dapat disebut MAROMAK atau TUHAN MAHA KUASA, sedangkan Seran diartikanb sebagai anak yakni adalah MASYARAKAT atau kita semua.

Sehingga jika bunyi ini dilakukan, artinya memanggil atau mengundang kehadiran Sang Kuasa untuk datang bersama-sama dalam suatru acara atau ritual adat yang dilakukan masyarakat Bellu. Itulah arti puukulan tertua, Seran Ama Lau Taek.

Kemudian, ada juga pukulan berikut yang dinamakan “ KOLI IKUN BA SA “. Pukulan ini adalah pukulan yang bertanya bahwa, dimanakah keberadaan orang yang bernama Koli Ikun ?. Jadi menurut Pius Fahik, semua pukulan yang dilakukan oleh para penari likurai saat beraksi, memiliki nama dan arti masing-masing, maka kata Pius, Tarian Likurai sangat Unik diantara berbagai Tarian lainnya yang ada dibumi ini.

DSCF1600Sesuai perkembangan zaman, Tari Likurai dilakukan untuk menjemput para pahlawan perang yang pulang membawa kepala musuh untuk dipenggal. Lalu pada zaman sekarang ini, Tari Likurai dilakukan untuk menjemput para Petinggi Negara, Petinggi Gereja, Petinggi Mesjid dan orang-orang yang berjasa besar atas Negara kita yang disebut sebagai sang pahlawan.

Pius menegaskan, Tarian Likurai adalah tarian asli milik rakyat Belu, milik etnis Tetun. Dalam Masyarakat Belu terdapat 4 Etnis besar, yaitu : Etnis Tetun, Etnis Fehan atau Malaka, Etnis Bunak, Etnis Dawan. Sejak Dulu Etnis Tetun dengan Bahasa Pemersatu rakyat Belu, juga adalah bahasa Tetun, maka nama Likurai adalah Bahasa Tetun yang artinya Mengelilingi Bumi, jadi sudah tentu Tari Likurai adalah milik orang Belu.

Kata Budayawan yang punya nama sudah dikenal menasional ini, pada dasarnya, semua pukulan gendang Likurai itu sama bunyinya, tetapi masing-masing etnis menyebutnya dalam bahasanya masing-masing pula, sehingga terdengar beda dalam berkata-kata namun bunyinya tetap sama. Lalu kemudian, Kabupaten Belu pecah menjadi dua kabupaten yakni, Kabupaten Malaka dan Kabupaten Belu sendiri, namun tarian Likurai ini tetap berada di Malaka dan Belu sendiri. Malaka dan Belu tetap punya tradisi Budaya Likurai yang sama pula.

“ Tarian ini, mula-mula dilakukan oleh rakyat Belu, maka tentu Tarian ini milik rakyat Belu”, ucapnya.

Pius Fahik melanjutkan, Tarian Likurai juga dimiliki oleh Etnis Dawan, namun etnis ini hanya sedikit yang memakainya sebagai Tarian adat yang melekat. Masih banyak pula jenis pukulan gendang Likurai yang memiliki artinya masing-masing, seperti TEHEDEK, TIBIDIK DAN BIDU KIKIT. Pukulan-pukulan ini sangat unik dengan arti masing-masing. ( NTTEXPOS.002)

( Bersambung ke bagian 2  : …Makna Pukulan Tehedek,Tibidik dan Bidu Kikit…)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: