BUPATI TIMOR TENGAH UTARA : KURE MENGANDUNG NILAI BUDAYA DAN RELIGIUS, PATUT JADI WARISAN ANAK CUCU !

Liputan Khusus,ntt-expos.com.Di Noemuti-TTU.22-24/03/2016.

“ Pemerintah TTU sedang melakukan pemetaan, mana yang merupakan wisata budaya, mana yangIMG_3654 wisata religius, mana yang merupakan wisata budaya religius dan mana yang potensi wisata alam. Dalam pemetaan tersebut, yang bernilai budaya akan di pilah, mana yang budaya asli, mana yang hanya rohani dan budaya, dan mana yang agama sendiri, serta mana yang berpotensi menjadi wisata alam yang elok. Setelah dilakukan pemetaan secara baik dan benar, kedepannya, Pemerintah TTU akan buat regulasi yang bisa mengikat, untuk tetap dijalankan terus walau terjadi pergantian kepemimpinan. Nah regulasi seperti itulah yang akan dibuat sesuai hasil penelusuran detail “.

Inilah upernyataan Bupati Timor Tengah Utara, Raymundus Fernandes, ketika jumpa pers bersama para Wartawan, di Aula Rumah Jabatan Bupati TTU, pada Hari Saptu,26/03/2016.
Dihadapan wartawan berbagai media dan Tim Bidang Kebudayaan dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT serta Tim Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Bupati TTU, mengatakan, sudah berpuluh tahun lamanya Kure dilakukan oleh masyarakat suku-suku di Noemuti. Oleh karena itu, Kure harus bisa ditempatkan sebagai salah satu ritus yang mengandung Wisata Budaya Religius, yang mampu mendatangkan ekonomi bagi masyarakat TTU pada umumnya dan khususnya bagi masyarakat di Noemuti.

Bupati mengakui, bahwa kalau diteliti secara detail, memang ada sedikit perlahan-lahan nilai tradisi asli yang ada mulai terancam hilang karena perkembangan zaman yang makin moderen ini, namun juga harus diakui bahwa masih cukup banyak nuansa-nuansa asli yang terlihat saat pelaksanaan Kure tersebut. Oleh karena itu, pemerintah daerah TTU, akan menggali kembali tradisi yang aslinya untuk dilakukan kembali dengan benar.

IMG_4568Bupati Raymundus, melanjutkan bicara, tahun 2017 nanti Pemerintah TTU, akan berusaha mendorong masyarakat dan suku-suku di Noemuti, agar melakukan kure dalam nuansa budaya dan religius sesuai aslinya, kemudian dipoles dengan nuansa-nuansa pesona alam dan wisata, sehingga Kure bisa menggenapi nuansa yang komplit menjadi Wisata Budaya Religius, yang mampu mendatang ekonomi bagi masyarakat. Hal ini dilakukan pemerintah dengan tujuan, agar anak cucu akan mengetahui jelas bahwa inilah warisan leluhur yang ditinggalkan untuk dilakukan seterusnya.

Bupati melanjutkan lagi, Pemerintah TTU, akan memediasi berbagai komponen masyarakat, suku-suku, tokoh-tokoh adat dan pihak Gereja, agar bersatu padu dalam komponen yang utuh, sehingga setiap komponen memahami fungsinya dalam melaksanakan Ritus Kure yang sebenarnya yang harus dilakukan.

Kure yang dilakukan bersaamaan dengan perayaan Paskah Gereja, merupakan nilai kebersamaan yang mengikat semua komponen masyarakat dan suku-suku untuk memuji dan memuliakan Tuhan Sang Pencipta. Hal ini patut dilestarikan.

Menurutnya, dilihat dari sejarah Kure maka diketahui bahwa, memiliki berbagai nilai, yakni, peningkatkan pertanian, menjaga kedamaian, yang disimbolkan dengan, menyerahkan hasil bumi kedalam rumah-rumah suku, yaitu, tebu yang dilambangan sebagai senapan dan buah-buahan yang dilambangkadan sebagai peluru. Inilah pesan gereja yang dititipkan kepada seluruh Suku dan Rakyat Noemuti, yang dulunya terkenal mengangkat senjata melawan penjajahan. Napak Tilasnya jelas bahwa, terjadi perang sampai di kupang dan dalam berbagai tempat di pulau Timor. Buktinya, di Penfui, di Babau, di Tuapukan, ada benteng pertahan dari Suku-Suku yang tergabung dalam Suku Kaesmetan, dan hal ini membuktikan bahwa pada zaman dulu Suku-Suku Noemuti yang bergabung dalam suku kaesmetan, selalu angkat senjata untuk berperang.

Dijelaskanya, Karena itu, Gereja melakukan Kure, yakni Senjata diganti dengan Tebu dan peluru diganti dengan buah-buahan, mesiu diganti dengan Ut, hal ini sebagai motivasi baru agar masyarakat lebih focus pada usaha pertanian yang mampu memberikan hasil kehidupan yang lebih baik. Cara yang dilakukan Gereja adalah suatu ajakan untuk berhenti berperang dan gencarkan pertanian. Inilah pesan Kedamaian yang dititipkan Gereja pada masyarakat Noemuti sejak zaman dulu, sehingga patut diwariskan pada anak cucu kita.

Bupati, melanjutkan bicara, Gereja melihat bahwa cara masuk yang tepat untuk mempersatukan rakyat Noemuti adalah budaya, dan Gereja memposisikan suku-suku pada tempatnya, menghormati suku-suku dan tidak menghilangkan ritus-ritus yang dimiliki suku-suku tersebut. Gereja masuk dengann tradisi Gereja, lalu memadukan dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada pada suku-suku, maka lahirlah apa yang disebut KURE.

Memandang Budaya Kure memiliki Nilai-Nilai yang Mulia dan Luhur, maka Pemerintah Daerah TTU, akan memediasi antara suku-suku dengan gereja, agar kure itu dapat bermanfaat bagi rakyat noemuti dan dunia luar, sebagai wisata budaya religius yang penuh makna luhur.

Ditanya mengfenai kepemimpinan Suku-Suku terkait menjaga dan melestarikan Budaya Kure, Bupati IMG_4591TTU, menjelaskan, Struktur Pemerintahan adat Noemuti berbeda dengan daerah lain. Ada sekitar 10 suku, 18 anak suku hingga 24 anak suku, mereka berkumpul dan memilih siapa yang akan menjadi pemimpin satu periode untuk mengendalikan budaya ini. Kepemimpinan Adat di Noemuti, bukan berdasarkan Genologis tapi berdasarkan pilihan para pemangku adat, inilah cara Kepemimpinan Masyarakat Adat di Noemuti.

“ Jadi demokrasi yang sesungguhnya sudah terjadi di Noemuti, jauh sebelum Indonesia merdeka. Seorang yang terpilih dengan suara terbanyak akan menjadi pemimpin masyarakat adat, dan pemimpin tersebut tidak bisa serta merta merobah tatanan adat yang berlaku tanpa keputusan bersama seluruh komponen suku-suku dan pemangku adat yang ada di Noemuti “, ucap Bupati.

Kata Bupati TTU, Raymundus, Pemerintah Daerah TTU, Lembaga Adat dan Lembaga Gereja, akan bekerjasama menyiapkan berbagai hal termasuk Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, Infrastruktur jalan raya yang memadai, agar bisa mendatangkan aspek ekonomi bagi rakyat. Masing-masing lembaga akan melakukan dengan cara dan tanggungjawab masing-masing.Kami tentu akan bersinergisitas, demi mampu mendatangkan ekonomi bagi rakyat, yang berkelangsungan.

Kita akan menyiapkan ketahanan budaya, ketahanan iman, dan cendramata-cendramata yang berasal dari Bumi TTU, seperti, Salib yang dirangkai dengan batu Akik Loka, atau manic-manik Rosario dari bebatuan dan kayu yang bernilai dan elok dari alam TTU. sarana akomodasi, transportasi, dan jalan raya yang memadai bagi orang-orang yang datang berkunjung ke daerah tujuan di Kote, untuk mengikuti dan menyaksikan Kure. Juga akan disediaskan makanan Tradisi mLokal TTU, inilah yang harus dilakukan kedepanya, sehingga dapat meransang dan menarik banyak orang untuk datang berkunjung. Kalau banyak orang tertarik untuk berkunjung, maka inilah peluang datangnya ekonomi bagi rakyat kita.

( NTTEXPOS.001).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: