FGD INVENTARISASI KARYA BUDAYA TARI GAWI : “ BPNB BALI DISAMBUT POSITIF PARA TOKOH ADAT ENDE-LIO “

ntt-expos.com. ENDE.25 Maret 2018.

 Awal Mula Tari Gawi dilakukan sebagai ucapan syukur atas kemenangan perang, lalu dalam perkembanganya, Gawi dilakukan untuk berbagai hal, seperti, Syukur Panen dan syukur atas suatu keberhasilan. Gawi miliki banyak ragam gerakan dengan maknanya masing-masing. Terdapat juga istilah khusus bagi pelaku  yang bertugas  memberikan spirit bagi para penari agar tetap semangat melakukan Gawi dari awal hingga selesainya. Saat melakukan Gawi, para pelaku saling bergandengan tangan sebagai simbol persatuan yang kokoh dan tak boleh dipisahkan.

Inilah salah satu kesimpulan umum dari  FOCUS GROUP DISCUSSION ( FGD ) yang berthemakan INVENTARISASI KARYA BUDAYA TARI GAWI  yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali ( BPNB Bali ) di Lokasi Museum Budaya Kota Ende, melibatkan berbagai Tokoh Adat Ende-Lio, pada 20 Maret 2018 yang Lalu. Dalam FGD ini, Tim Kajian BPNB Bali, terdiri dari 5 orang yaitu , I Putu Putra Kusuma Yudha, I Wayan Rupa, I Made Satyananda, Gusti Ayu Armini, Hartono dan Ida Bagus Sugianto, menanyakan berbagai hal tentang makna dan nilai-nilai inti Tari  Gawi, tentang busana dan simbol-simbol yang digunakan, juga tentang istilah dan formasi gerakan Gawi, Ritual-Ritual khusus sebelum dilakukan Gawi, dan bunyi-bunyian yang mungkin digunakan saat Gawi.

Mengawali pembicaraan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende-Lio, mengatakan, pentingnya Tari Gawi didaftarkan sebagai tradisi milik rakyat Ende-Lio yang,karena itu, para Tokoh Adat yang hadir diharapkan memberikan informasi yang benar tentang keaslianya,sehingga pihak BPNB Bali dapat mendaftarkan Tari Gawi sebagai warisan budaya Nasional milik masyarakat Ende-Lio yang sah.

Dalam FGD ini, para Tokoh Adat Ende-Lio, yang diwakili oleh 4 orang pembicara, yaitu, Sebastianus Nuru,S.Sos. Frans Tati, Kae Antonius, Yopie Pera,  menjelaskan,  Gawi disebut juga TANDAK, dilakukan dengan cara saling bergandengan tangan, sebagai simbol  satukan hati dan pikiran, satu irama dalam hentakan kaki dan tangan, bergerak dalam satu pikiran yang sama merasakan suka cita  seraya mengucap syukur atas berkat hidup yang diberikan Tuhan Sang Maha Kuasa kepada kita. Kata mereka,  penyair utama dalam Gawi disebut ATA SODHA. Ata Sodha adalah orang yang memiliki Ilham khusus untuk melantunkan syair-syair adat tanpa panduan buku dan teks apapun, oleh karena itu Ata Sodha ditentukan langsung oleh sesepuh adat atau Mosalaki.

Tokoh Adat yang juga Ketua Sanggar JINGA WONGA, bernama Sebastianus Nuru,S.Sos, menjelaskan, Gawi miliki banyak makna filosofis antara lain, makna persatuan  erat, makna religius yang berisikan syair-syair agung untuk memuja Tuhan Sang Maha Kuasa. Gawi memiliki makna tanggung jawab, memiliki makna Tatakrama, dan  makna Kesetaraan Perempuan. “ Kaum perempuan sangat dihormati dalam suku Lio, sebab secara adat, perempuan lah yang melahirkan manusia, sehingga rumah adat kami dijadikan simbol kelahiran yang datang dari kaum perempuan “, ucapnya  serius.

 Menurut Tokoh Adat Lio lainya, Frans Tati, komposisi Gawi terdiri dari Eko, Ana Jara, Simo Sau, dan Ulu. Jenis Formasi Gawi adalah Lingkaran berbentuk bulat seperti ular yang disebut Nipa yang dilakukan dengan cara bergandengan tangan lalu  menghentakkan kaki maju dan mundur yang disebut Ngendo dan Rudhu.

Frans menjelaskan lagi, Ulu adalah orang yang bertugas sebagai pemimpin kepala barisan sedangkan Eko adalah orang yang bertugas menjaga Ujung atau Ekor barisan. Zaman dulu, eko adalah panglima perang yang memegang Ekor Hewan. Sedangkan Ana Jara dan Simo Sau adalah orang yang bertugas memberikan spirit agar para penari selalu bersemangat. Kata Frans, sebelum melakukan Gawi, dilakukan Ritual khusus oleh para tua-tua adat tentang tujuan dilakukan Gawi. Ritual ini dilakukan dalam rumah adat yang disebut SAO RIA, kemudian Gawi pun dilakukan dihalaman rumah adat.

Menurut tokoh adat Lio, Ali Abubakar, dari kecamatan Wolo Jita kampung Wiwi Tebo, mengatakan, sesuai tradisi asli, sebelum Gawi dilakukan, terdahulu musik gong dibunyikan untuk memanggil orang datang ke lokasi. Lalu istri-isteri  para pembesar adat Mosalaki Ria Bewa keluar dan menari-nari sambil  memberikan selendang pada tamu yang datang dan tamu-tamu itupun ikut menari, kemudian para pembesar adat Mosalaki Ria Bewa ikut menari Gawi dengan tidak memakai baju . “Kalau zaman dulu, sebelum Gawi dimulai, dilakukan dulu Ritual Joka Ju, selama lima hari lima malam dan saat itu seseorang tidak boleh memegang dedaunan apapun dan pada hari ke-enam,  Gawi dilaksanakan dari Soreh hari sampai pagi hari “, papar Ali.

Menurut Kae Antonius yang juga salah satu Tokoh Adat Lio, mengatakan, Gawi adalah budaya kaya nilai peninggalan leluhur, harus tetap dilakukan turun temurun. Sementara menurut Tokoh Muda Lio, Yopie Pera, Gawi harus dilestariakan dengan cara menjadikannya sebagai Pelajaran MUATAN LOKAL  bagi anak-anak sekolah, sehingga keaslianya tetap terjaga. “Terimakasih banyak kepada pihak Dinas pendidikan dan Kebudayaan Ende yang bekerjasamna dengan BPNB Bali untuk upaya mendaftarkan Karya Budaya Gawi  menjadi warisan Nasional sekaligus  Warisan Luhur milik rakyat kabupaten Ende-Lio”, ucap Yopie.

Kepada media ini, I Putu Putra Kusuma Yudha, yang adalah koordinator Tim Kajian dari BPNB Bali, Seusai melakukan FGD itu, menjelaskan, timnya telah mengumpulkan berbagai data-data dari berbagai sumber penting dalam kabupaten Ende Lio, tentang  Asal Mula dilakukan Gawi, makna syair yang terkandung, komposisi dan ragam gerak, lokasi dan tempat melakukan Gawi, ritual-ritual khusus sebelum melakukan Gawi, istilah-istilah dan tugas dari para pelaku, serta bentuk keaslian Gawi pada zaman dahulu  hingga bentuk Gawi yang berkembang pada saat saat ini.

Oleh karena itu atas nama BPNB Bali, dia mengucapkan banyak terimakasih kepada kepala dinas kebudayaan kabupaten Ende Lio, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende Lio, kepala Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Ende-lio, Pihak Universitas Flores di Ende, Para Tokoh-tokoh adat Ende Lio, Pimpinan dan Anggota Sanggar Jinga Wonga, dan kepada semua pihak yang sudi membantu hingga suksesnya tugas Kajian mereka di kabupaten Ende Lio . (NTTEXPOS.COM.005 Franco Setu).

 


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: