Kebanyakan Tidur Tingkatkan Risiko Serangan Stroke

Duajurai.com, New York – Jika Anda begitu bahagia dengan akhir pekan ini, karena libur sudah dimulai dari Kamis kemarin dan mungkin Anda mengambil cuti pada hari Jumat, jangan habiskan waktu dengan banyak tidur.
Penelitian terakhir seperti dilansir CNN Indonesia dari Independent, Minggu, 17/5/2015 menyebutkan terlalu banyak tidur bisa memicu serangan stroke. Penelitian itu membatasi tidur yang dimaksud adalah yang melebihi dari delapan jam waktu ideal yang dianjurkan para dokter.
Risiko stroke karena kebanyakan tidur meningkat hingga tiga kali lipat pada mereka yang mengidap hipertensi.
Susahnya kekurangan tidur, dengan hitungan hanya tidur lima jam dalam sehari semalam juga meningkatkan risiko pendarahan di otak ini.
Dr Oluwaseun Akinseye dari Rumah Sakit Mount Sinai, New York, dan para koleganya menganalisa 204 ribu orang dewasa di Amerika Serikat. Mereka melakukan penelitian selama 10 tahun mengambil data dari National Health Interview Survey.
Ditemukan mereka yang secara rutin tidur lebih dari delapan jam, 14 % lebih mungkin terserang stroke. Ini berarti hampir tiga kali lipat dibanding mereka yang yang tidur 7-8 jam saja sehari semalam, yang hanya punya risiko 5% saja.
Penelitian itu juga menemukan, mereka yang tidur kurang dari lima jam, 11% berisiko mengalami pendarahan otak.
Bandingkan dengan 6% risiko pendarahan otak yang mungkin menyerang mereka yang tidur antara lebih dari lima jam.
Sayangnya penelitian tidak membuktikan bagaimana terlalu banyak atau kekurangan tidur bisa berujung pada stroke. Hanya diduga mereka yang terlalu banyak tidur akan punya tingkat kebugaran yang lebih rendah dibanding mereka yang aktif bergerak.
Temuan ini akan dipresentasikan pada pertemuan American Society of Hypertension di New York. Sebelumnya awal tahun ini juga ada penelitian dari University of Cambridge yang menyebut ornag yang tidur lebih dari delapan jam per hari, rata-rata risiko terserang strokenya 46 lebih tinggi dibanding orang dengan pola tidur ideal. Peneliti mengikuti riwayat kesehatan 10 ribu orang yang berusia antara 42 hingga 81 tahun selama 9,5 tahun.(*)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: