KEGIATAN WORKSHOP FASILITASI PENULISAN SKENARIO FILM 2014

Rekomendasi Hasil Workshop ini merupakan bahan untuk memacu para Penulis Skenario Film kita, agar kedepannya dapat membuat karya-karya besar dan bermanfaat untuk membangun karakter bangsa yang berbasis Nilai Budaya dan Kearifan Lokal yang dimiliki oleh masing-masing daerah di Indonesia. Hal ini di ungkapkan oleh Kasubdit Literasi dan Apresiasi Film, Direktorat Jenderal Pembinaan Kesenian dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Subantoro, ketika membuka acara Workshop bagi para Penerima Fasilitasi Penulisan Skenario Film tahun 2014 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Belum lama ini.

Subantoro, menjelaskan, penyelenggaraan Fasilitasi Penulisan Skenario dilaksanakan sebagai bentuk keprihatinan akan minimnya film-film bertemakan budaya yang mengandung nilai-nilai sosial dan memiliki fungsi sebagai media untuk membangun karakter bangsa. Para penulis skenario sepertinya kurang berminat menuliskan naskah dengan tema sosial budaya, penulis muda yang diharapkan masih memiliki idealisme dan masih bisa dibentuk, harus diberikan stimulus agar mereka mau mengeksplorasi ragam budaya Indonesia dan menemukan nilai-nilai karakteristik bangsa yang menarik untuk dituliskan dalam bentuk skenario film.
Subantoro, menambahkan, melalui kegiatan Fasilitasi Penulisan Skenario diharapkan akan muncul penulis-penulis yang memiliki kreativitas tinggi dalam mengelola ide-ide dari keragaman budaya, kearifan lokal dan pembangunan karakter bangsa, demi kelestarian nilai-nilai budaya dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Sesuai dengan maksud dan tujuan pelaksanaan, Penyedia jasa mengusulkan usulan tema kegiatan, “Membangun karakter bangsa melalui skenario film yang berbasis nilai budaya dan kearifan lokal”.

Sementara dalam kegiatan itu, kepada Exodus Pos Kupang, ketua Tim Juri dan juga adalah ketua Tim Reviewer, Melvy Yendra, mengatakan, Setelah melalui proses membaca, meneliti dan melakukan penilaian atas proposal yang terkumpul di panitia dan berdasarkan proses seleksi dan kontrol atas kualitas skenario yang diterima, maka tim juri merekomendasikan peserta penerima fasilitasi penulisan skenario adalah: Arswendo Atmowloto, dengan skenario berjudul “Keluarga Cemara”,Pieter Kembo, dengan skenario berjudul “Ofa Langga” Yudiyanto, dengan skenario berjudul “Bhumi Sambara”, Ilma Indriasri, dengan skenario berjudul “ Kereta Sinema”, Retno Kusumastuti, dengan skenario berjudul “Keris”.

Melvy Yendra, melanjutkan, banyak menerima penulisan skenario yang masuk, namun, setelah dilakukan seleksi oleh tim juri, maka, hanya lima skenario yang layak mendapat fasilitasi. “ Bagi yang mendapat kesempatan Fasilitasi, kiranya terus berkarya membangun bangsa dan Negara dengan skenario-skenario yang lebih berkualitas, sedangkan yang belum mendapat kesempatan, diharapkan lebih tekun lagi berkarya sehingga kedepannya bisa mendapat kesempatan ini”, ungkap Melvy.

Sesuai pantauan langsung Wartawan Exodus Pos, dalam kegiatan Workshop yang dilaksanakan sejak tangga 27 sampai 29 September 2014, di Hotel Mercure Ancol, hadir juga Perwakilan Kemendikdud, Ny.Rita Siregar.

Ny. Rita Siregar, yang juga sebagai Moderator Kegiatan Workshop, memberikan masukan-masukan bagi lima peserta yang mendapat Fasilitasi Penulisan Skenario Film tahun 2014 tersebut.

Kepada lima peserta itu, Ny.Rita Siregar, mengatakan,Pemerintah senantiasa
mendukung skenario-skenario yang memiliki nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang bertujuan membangun karakter bangsa.

Katanya, pengaruh Globalisasi yang semakin hari semakin tak terkendali, dikuatirkan Nilai-nilai Budaya kita bisa saja ternoda dan luntur, dan bukan tidak mungkin, pada suatu saat nanti, akan hilang dan terlupakan.

Ny.Rita Siregar, mengatakan lagi, dengan kegiatan ini, diharapkan para penulis senantiasa peduli akan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh bangsa kita, dan dengan tulisan skenario yang mengandung nilai-nilai itu, maka, pemerintah dapat merampung beragam kekayaan budaya tersebut dan mendokumentasikannya secara baik, dengan cara memproduksi skenario-skenario yang kaya nilai tersebut, menjadi film layar lebar untuk dinikmati oleh masyarakat Indonesia. “ Kandungan isi skenario harus memiliki unsur pendidikan bagi masyarakat, ini yang diharapan oleh pihak Kemendikbud”, tegas Rita.

Workshop ini menghadirkan , lima orang Tim Reviewer, yang terdiri dari, Melvy Yendra, Gus Tf Sakai, Damhuri Muhammad, Hari Ambari dan Umi Budiastuti. Dan dihadapan Tim Reviewer, Moderator Kegiatan, Rita Siregar, memberikan kesempatan kepada lima orang peserta Penerima Fasilitasi Penulisan Skenario untuk memaparkan ide dasar ceritera mereka masing-masing.

Penerima Fasilitasi, Arswendo Atmowiloto, dengan skenario “ Keluarga Cemara”, mengatakan, Ide Penulisan Skenario yang ditulisnya itu, untuk mendidik para generasi muda kita agar tidak jauh terperosok dalam hidup di jaman modern ini. Katanya, Film-Film Sinetron yang gencar ditayang di televisi, terasa sudah kurang mendidik generasi kita, sehingga dengan Skenario Keluarga Cemara, diharapkan dapat menjadi contoh positip bagi setiap keluarga dalam mendidik anak-anak mereka menghadapi kehidupan sekarang ini. “ Contoh hidup sederhana, saling menghormati, interaksi hidup penuh kekeluargaan dalam kasih sayang,ada dalam ceritera ini, dan inilah contoh hidup yang baik yang patut di teladani”, ucap Asrwendo.

Selanjutnya, Piter kembo, dalam Skenario “ Ofa Langga “, mengungkapkan, ceritera yang di tulisnya, untuk mengingatkan kembali pada generasi Muda kita, agar mengetahui dan memahami latar belakang diciptakannya lagu-lagu daerah yang di tuturkan oleh para pendahulu-pendahulu kita di waktu yang lalu. Katanya, masa lalu memiliki nilai-nilai budaya yang dapat membentuk karakter bangsa, namun persoalan yang dihadapi adalah, kurang digali dan dilestarikan dengan baik. Oleh karena itu, lewat kesempatan ini, dirinya ingin adanya perhatian serius dari pemerintah untuk menggali dan melestarikan ceritera-ceritera rakyat yang ada di seantero bumi Indonesia. “ Kisah ini berlatarkan Kesetiaan, Cinta dan Patriotisme dalam membela tanah air dari kaum penjajah dijaman dahulu “, tandasnya.

Yudianto, dalam Skenario “ Bumi Sambara”, mengatakan, ceritera yang ditulis berlatar belakang, Kepercayaan,bukan menjadi penghalang bagi persatuan. Katanya, ini adalah ceritera film yang mempersatukan, yakni, kebersamaan yang dibangun dari berbagai latar belakang kepercayaan dan melahirkan suatu rasa persatuan yang erat dan melekat. “ Saya Tuliskan Ceritera Film ini, sebagai motifasi bagi masyarakat untuk membangun kebersamaan hidup yang harmoni, tanpa membedakan sapa dan dari mana latar belakang adat maupun agama mereka. Persatuan adalah kekuatan maha dasyat dalam membangun tanah air kita Indonesia”, tandas Yudianto.
Sementara Ilma Indriasri dalam karya “ Kereta Sinema”, menjelaskan, ceritera yang ditulisnya ini, merupakan, refleksi panjang yang dia ilhami, tentang Kasih Sayang dan Kesetiaan dalam kehidupan antar sesama. Katanya Interaksi Hidup penuh kasih antar sesama akan membawa manusia lebih memahami apa manfaaat hidup yang sebenarnya. “ Saya menintepretasikan semua kisah kehidupan dalam ceritera ini, untuk menyemangati masyarakat kita untuk memahami lebih mendalam arti Hiudp Kasih yang sesungguhnya”, ucap Ilma mengakhiri pembicaraan.
Penulis Skenario Retno dengan karya “ Keris “, mengatakan, latar belakang ceritera yang ditulisnya adalah, mendorong masyarakat untuk melestarikan benda – benda budaya peninggalan leluhur kita yang meimiliki sejarah yang mengakar. “ Keris adalah barang pusaka yang selalu dipakai oleh raja-raja kita dulu. Sepenting apa kegunaannya dan bagaimana cara pembuatan keris ini, akan saya paparkan menjadi pengetahuan bagi genersi kita “, ucap Retno.
Setelah 3 hari kegiatan Worshop ini, para Tim Reviewer, memberikan rekomendasi berdasarkan pemaparan Ide Ceritera dan Teknik Penulisan Skenario yang baik kepada lima peserta tersebut.

Isi Rekomendasi tersebut, antara lain, kiranya dalam pembuatan skenario yang berlatar belakang budaya, harus memiliki fakta sejarah yang kuat sehingga basis ceritera tersebut terhindar dari kontroversi. Perlu adanya penyegaran-penyegaran dalam ceritera sehingga penonton tidak menjadi jenuh ketika menontonnya. Jangan terlalu banyak Deskripsi yang menyebabkan miskin dialog maupun sebaliknya yakni banyak dialog miskin gambar. Perlu memperhatikan berbagai property yang dipakai dalam ceritera sehingga ada kelogisan antara ceritera dan barang yang dipakai pada zaman ceritera itu terjadi.

Rekomendasi yang diberikan oleh para Tim Reviewer, diterima baik oleh seluruh penulis skenario yang mendapatkan fasilitasi tersebut . Dan akhirnya acara Worshp ini di tutup pada Senin 29 September 2014 oleh perwakilan Kemendikbud, Ny.Rita Siregar.. ( Exos.001).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: