MARTHINUS ORA , “ TRADISI KA TODO MENEMBUS ZAMAN “

ntt-expos.com. Kupang, 17 Juli 2016.

“ Untuk mencapai puncak acara yang disebut Ka Todo, harus melewati 12 upacara-upacara adat yang dilakukan secara berurutan. Semua rangkaian upacara tersebut memiliki tujuan masing-masing, yakni dari persatuan mengusir kejahatan sampai pada pengungkapan rasa syukur atas pemberian hasil tanaman yang berlimpah dari Tuhan Lewat Pantun,Syair,Lagu,Tari yang semuanya bernafaskan adat tradisi. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama-sama oleh seluruh warga Pau Tola. Inilah yang disebut Ka Todo”. Hal ini diungkapkan salahsatu Tokoh Adat Pau Tola di Kota Kupang, Marthinus Ora, ketika ditemui wartawan media ini, di Hotel Romytha Kupang, beberapa waktu lalu.

Marthinus mengatakan, dirinya sangat bangga sebagai anak asli Kampung Pau Tola, sebab memiliki tradisi adat yang unik dan mampu bertahan turun-temurun sampai saat ini. Walaupun zaman semakin modern, tradisi Ka Todo, tak pernah luntur keasliannya. Ini pertanda bahwa Tradisi peninggalan leluhur Pau Tola, mampu menembus zaman yang semakin modern ini, ucap Marthinus dengan wajah kagum.

Katanya, Untuk mencapai Puncak Acara yang disebut Ka Todo, maka acara-acara adat yang harus dilakukan sebelumnya adalah, acara Ka Todo Mbue, yaitu makan nasi kacang tali yang dilakukan oleh Empat Ana Susu atau empat kepala suku didepan rumah adat Pau Tola. Acara makan bersama ini dilayani oleh para isteri dari empat kepala suku Pau Tola. Acara ke dua adalah acara Pute Wutu, yaitu, empat Kepala Suku bersama Dukun Adat yang disebut Nete Niro, menari dengan pedang ditangan mengelilingi Peo. Peo adalah Tiang bercabang yang ditanam di depan rumah adat untuk tempat pemujaan terhadap Sang Maha Agung.

Dia melanjutkan, Acara Ketiga adalah Sara Fai, yaitu, istri dari empat Ana Susu atau Kepala Suku, menari mengelilingi Peo. Acara Keempat adalah Ndera, yaitu, tarian missal atau Tandak yang melibatkan semua masyarakat dari kampung-kampung di sekitar Pau Tola. Acara Kelima, adalah acara Daka Ana , yaitu, kelompok-kelompon menari, disertai dengan syair adat, saling berpantun.Acara Keenam adalah prosesi Jetu, yaitu, tarian tandak atau massal,dengan syair dan lagu berkaitan dengan semua hasil bumi, yang ditanam di kampung Pautola dan sekitarnya.

Dilanjutkannya, Acara ketujuh adalah, Bele Wo, yaitu, tarian berhadap-hadapan sambil bersyair dengan menari-nari di atas bara api sampai bara api itu padam dan tak terbekas lagi di tanah. Acara Kedelapan dilanjutkan dengan Tarian Massal dinyanyikan Eo Eo ade tadi manu meo woe ua. Yaitu, berbagai jenis tanaman di syairkan oleh para penari. Acara ke sembilan, Toto Madho Wado (menari secara massal seperti menai polnes). Acara kesepuluh adalah Wi Tuka Dako (menari-nari sama seperti menarik usus anjing).Acara kesebelas adalah Ka Fai Nggae (tua-tua adat atau empat ana susu makan nasi kacang).Acara keduabelas, Sepa Api atau tendang bara api dari tempurung kelapa. oleh anggota suku yang dikhususkan menendang bara itu, Setelah ditendang bara api itu, warga yang terus melaksanakan tarian massal menginjak-injak bara api sampai tak berbekas. Acara ini melambangkan kejahatan yang panas seperti api, harus dimusnakan bersama-sama. Atau kejahatan yang menyusahkan banyak orang harus dikalahkan, agar tidak menghancurkan kehidupan masyarakat.

Marthinus mengatakan, Acara ketigabelas, adalah Ka Todo Pale, yaitu, makan umum di halaman kampung Pautola, lalu melakukan Papa Todi yakni saling lempar antar warga Pau dan Toda secara massal dengan buah-buah seperti buah kelapa muda yang kecil, buah labu, buah pinang, buah enau dan buah-buah lainnya.

Dia menambahkan, menurut kenyataan yang terjadi, apabila tradisi ini tidak dilakukan, maka banyak kesulitan-kesulitan yang menerpa kehidupan warga Pau Tola, sehingga harus dilakukan turun-temurun.

Menurut Marthinus, untuk mengkhiri semua rangkaian tersebut, maka ditutup dengan acara Misa Kudus bersama seluruh warga Pautola, di dalam Gereja Katolikh, yang dipimpin oleh Pastor. “ Budaya menyatu dengan Gereja Kudus, sebagai tanda bahwa, Budaya dan Iman Gereja menyatu dan bersatu padu, membangun kehidupan masyarakat Pau Tola, untuk selalu menuju pada kehidupan yang sesuai dengan ajaran kebenaran Tuhan “, ucap Marthinus, mengakhiri pembicaraannya. ( 002.NTTEXPOS).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: