“ MASALAH NARKOBA DI NTT “

NTT-EXPOS.COM. 21/04/2015.

“ Mengatasi masalah Narkoba, tentu tidak segampang membalik telapak tangan. Seiring dengan waktu, pihak BNNP NTT, selalu melakukan kegiatan-kegiatan dan aksi-aksi tepat untuk melakukan Pencegahan, Pemberantasan maupun Rehabilitasi “. Hal ini diubngkapkan oleh Kepala BNNP NTT, Drs. Aloysius Dando,MM, ketika di Wawancarai oleh Media ini, di Kantor BNN Propinsi NTT, Senin, 20/04/2015.

Katanya, perkembangan masalah Narkoba di NTT, cenderung mengalami peningkatan, oleh sebab itu, untuk bisa mengatasi masalah ini, perlu keterlibatan semua pihak , baik dari tingkat RT, RW, Pemerintah Kelurahan, Tokoh masyarakat, Tokoh Agama, Para Guru dan Pemerintah diberbagai tingkatan serta aparat keamanan yang ada di Nusa Tenggara Timur.

SINERGISITAS SEMUA KOMPONEN, ATASI MASALAH NARKOBA

Tanpa keterlibatan dan kerjasama yang saling bersinergi, masalah Narkoba di NTT tentu sulit untuk bisa dicegah dan diberantas. “ Para pengedar dan pengguna, sangat licik dan cerdas dalam melakukan aksi-aksinya, tanpa sinergisitas yang erat antara semua komponen penting dari tingkat Tokoh Masyarakat, RT sampai Pemerintahan dan aparat keamanan, maka upaya pencegahan dan pemberantasan masalah Narkoba, akan jauh dari harapan “, tandas Alo dengan Nada yakin.

Aloysius, menjelaskan, upaya-upaya dan pendekatan serta sosialisasi, telah dilakukan oleh Pihak BNNP NTT,kepada komunitas-komunitas remaja, kelompok masyarakat, para pelajar dan mahasiswa, PNS dan TNI – POLRI. Selain Sosialisasi tentang bahaya Narkoba, juga dilakukan tes urin, di semua lintas Instansi maupun disetiap Komunitas Masyarakat dan Pelajar serta Mahasiswa.

KAUM MUDA YANG MENGGUNAKAN NARKOBA DALAM KOS HARUS DITELITI

Tentang masalah Narkoba yang digeluti oleh kaum muda, terlebih para remaja di bawah umur, yang terjadi di tempat-tempat sepih maupun di kos-kosan tersembunyi, Alo mengatakan, Para RT dan Tokoh Masyarakat, harus teliti, melihat sikap dan tingkah laku orang-orang yang kos, yang tidak memiliki identitas lengkap.

Para Remaja bawah umur yang minta kos dengan identitas tidak lengkap, sebaiknya tidak diterima kos diwilayah tertentu. Para pemilik kos juga harus bisa bekerjasama dengan aparat RT, RW, Kelurahan dan Tokoh Masyarakat dalam menerima remaja atau orang-orang yang kos tanpa identitas lengkap.

TINGGGAL WAKTU UNTUK MENANGKAP,BANDAR, DAN PENGEDAR

Tentang bandar para pengguna dan pengedar yang selalu berkeliaran di NTT yang belum tertangkap, kata Aloysius, pihaknya selalu siaga melakukan pemetaan serius dan identifikasi secara terus – menerus serta siaga untuk melakukan penangkapan. Menurutnya, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Inilah yang menjadi keyakinannya, bahwa sekali saat, para Bandar dan Pengedar akan terjaring juga. “ Kami BNNP NTT tidak pernah tinggal diam untuk memberantas mereka “, tandas Alo, dengan nada serius.

Dijelaskan, hal yang juga cukup penting dalam upaya mengurangi lajunya perkembangan Masalah Narkoba di NTT, adalah melakukan Program Rehabilitasi. Oleh karena itu, pihak BNNP NTT, selalu membuka diri bagi para pecandu untuk melapor diri, agar bisa direhabilitasi sesuai mekanisme yang tepat. BNNP NTT juga selalu mendata dan mencari serta menawarkan program rehabilitasi kepada para pecandu dan korban narkoba kepada semua masyarakat dalam semua tingkatan

LAKUKAN REHABILITASI, SELAMATKAN GENERASI MUDA

Aloysius, Menjelaskan, UU Nomor 35, pasal 54, 103, 127, yaitu, pecancu dan penyalahgunaan narkoba, direhabilitasi. UU Nomor 36, yaitu, setiap orang berhak atas kesehatan. Katanya, berdasarkan undang-undang tersebut, BNNP NTT, selalu giat melakukan upaya untuk rehabilitasi para pengguna dan penyalahgunaan Narkoba di NTT.

Dikatakannya, program rehabilitasi harus gencar dilakukan, terlebih terhadap kaum muda yang tercandu dan salah menggunakan narkoba. Kaum muda sebagai generasi penerus bangsa, harus benar-benar mendapat perhatian serius dibidang rehabilitasi, sebab, jika seseorang tercandu narkoba, maka otaknya akan menjadi rusak. Kecanduan adalah penyakit otak yang kronis, sebab, struktur otak akan dipengaruhi oleh zat psikoktif pada batang otak ( The brain stem ), Kortek Cerebral ( The Cerebral Cortex), Sistim Limbik ( The Limbik system).

KECANDUAN AKAN MERUSAK OTAK

Dia, menjelaskan, Batang otak, merupakan alat control dan fungsi vital dalam tubuh. Cerebral Cortex, merupakan pusat informasi dari proses rasa, proses berpikir dan penilaian. Limbik System, adalah perasaan nyaman dan nikmat. Jika sistim otak dalam tubuh seseoreang sudah terganggu oleh karena narkoba, maka, dirinya tidak lagi berguna apa-apa bagi sesama, bangsa dan Negara. . “ Jadi penting rehabilitasi bagi pecandu dan penyalahguna narkoba, terlebih terhadap kaum muda kita “, pungkas Alo.

Menurut Aloysius, ada tiga tingkatan dalam Penggunaan Narkoba, Pertama, Penggunaan ringan, Yaitu, penggunaan coba-coba, rekreasional dan situasional. Pada tingkat ini, orang secara situasional dapat menggunakan untuk mencari kesenangan atau bersosialisasi.

Kedua, Penggunaan sedang, yaitu, penggunaan secara teratur lebih atau sama dengan tiga hari perminggu baik satu atau lebih jenis narkoba. Sudahg ada kecenderungan peningkatan penggunaan, namun, belum ada tanda-tanda ketergantunagan.

Ketiga, Penggunaan Berat, yaitu, penggunaan dengan criteria penggunaan secara rutin atau setiap hari, penggunaan narkoba suntik dan sudah menimbulkan ketergantungan fisik, psikis dan masalah sosial. “ Kalau sudah sampai tahap ke tiga ini, maka harus segera dilakukan rehabilitasi secara rutin “, tegasnya.

MASYARAKAT HARUS RESPON DENGAN UU TENTANG REHABILITASI

Katanya, Ada juga regulasi, yang menjadi dasar hukum tentang rehabilitasi ini , yaitu, Undang-Undang, Nomor 35, tahun 2009. Pada pasal 54, berbunyi, pecandu dan korban penyalahguna narkotika, wajib menjalani rehabilitasi medis dan sosial. Pada pasal 55, berbunyi, bagi pecandu yang sudah cukup umur, wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada Institusi Wajib Lapor ( IWL), yang ditunjuk pemerintah ( Puskesmas, Rumah Sakit, atau Lembaga Rehabilitasi Medis dan Sosial).

Orangtua atau wali pecandu narkotika yang belum cukup umur, juga memiliki kewajiban untuk melaporkan. Sedangkan pada pasal 128, berbunyi, orangtua / wali pecandu Narkotika yang belum cukup umur, yang sengaja tidak melapor, dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 bulan atau denda paling banyak 1 juta rupiah. “ Saya yakin, dengan berbagai kiat dan upaya serius dari BNNP NTT, kedepannya, masalah narkotika di NTT akan berangsur-angsur akan berkurang dan teratasi “, tandas Aloysius, mengakhiri penjelasannya.( EXPOS.001)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: