OPTIMALISASI MISI PEDAGOGIS FILM MELALUI FILM INSPIRATIF

PENULIS : BAMBANG INDRIYANTO

( Direktur SEAMEQ In Language )

 

www.ntt-expos.com. OPINI.April 2018.

Film sebagai suatu karya seni tidak hanya menyajikan fenomena estetika sinematografi, tetapi juga menyajikan fenomena etika budaya. Kedua fenomena tersebut merupakan bagian dari rana pedagogis. Ketika siswa disajikan pada sebuah adegan dari suatu film maka mereka akan terekspose pada kedua fenomena tersebut sekaligus.

Dengan fenomena estetika sinematografi, siswa dihadapkan  pada keindahan acting dan setting film. Fenomena ini menstimulasi daya nalar berpikir siswa untuk menjustifikasi tentang logika ceritera. Dalam konteks ini, nalar berpikir siswa ditujukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap jalan ceritera dan setting kejadian adegan dalam film. Sedangkan, fenomena etika budaya untuk meningkatkan sensitifitas rasa ( afektif ) terhadap jalan ceritera dan setting film. Dalam konteks ini, arahnya untuk meningkatkan pemaknaan terhadap jalan ceritera dan setting film.

Dalam perspektif pedagogis, film merupakan sumber belajar bagi siswa. Secara lebih kongret, film menjadi sumber belajar non-kurikuler. Nalar berpikir dan sensitifitas rasa, menjadi modal bagi siswa dalam memahami dan memaknai tiga aspek dari film, yaitu jalan ceritera, karakteristik aktor, dan setting film. Nalar berpikir dan sentifitas rasa, tumbuh dan berkembang sebagai hasil dari keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelas dengan guru menjadi aktor utamanya. Dalam menjalankan peranya sebagai aktor utama dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelas, guru merujuk pada kurikulum yang berlaku. Dalam praktiknya, kurikulum ini dijabarkan dalam berbagai topik bahasan. Penjelasan setiap topik bahasan dilakukan melalui jalur intra-kurikuler dan ko-kurikuler. Hasil kegiatan belajar mengajar tersebut adalah siswa yang kompeten, dengan menggunakan argumentasi taksonomi Bloom, kompetensi tersebut meliputi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

Di antara berbagai argumentasi yang dikemukakan oleh para ahli pedagogis tentang kegiatan belajar mengajar , terdapat pendekatan contextual learning. Dalam mengajukan argumentasi tentang optimalisasi misi pedagogis film, dalam penguatan karakter siswa, tulisan ini menjadikan contextual Learning sebagai titik tolak. Dengan pendekatan ini, optimalisasi misi pedagogis film dapat terjadi jika jalan ceritera dan setting lokasi film berkaitan dengan kehidupan siswa. Jarak antara jalan ceritera dan setting film dengan konteks kehidupan siswa bersifat relatif, berdasarkan pada tingkat kognitif siswa. Bagi siswa PAUD dan SD, jarak ini bersifat kongret, yaitu tentang lingkungan rumah dan keluarga siswa. Semakin tinggi jenjang pendidikan siswa, maka konteks jarak ini bisa lebih luas dan abstrak. Bagi siswa SMP dan terlebih siswa SMA/SMK, jalan ceritera dan setting film secara fisik berjauhan dari lokalitas tempat tinggal siswa, tetapi secara budaya berdekatan. Misalnya, film yang berceritera tentang kehidupan remaja metropolitan Jakarta dengan setting film di Medan atau kota besar lainnya, meskipun secara geografis jarak tempat tinggal siswa dengan Jakarta berjauhan. Dengan adanya teknologi informasi yang semakin permisif, hal ini dapat memperluas ekspos siswa terhadap konteks budaya yang berbeda sama sekali dengan konteks budaya siswa.

Disamping perbedaan konteks budaya, film juga menyajikan suatu alur ceritera yang bersifat universal, seperti romantika kehidupan remaja atau kehidupan keluarga menjadi suatu tema ceritera film, yang digarap oleh sutradara dari negara AS atau Eropan serta India. Dalam ceritera tersebut, selalu terdapat peran protagonis dan antagonis. Fenomena ini menjadi karakteristik ceritera dari setiap film dari berbagai konteks budaya.

Kemampuan siswa untuk memahami dan memaknai jalan ceritera dengan berbagai karakter. Film memang telah tumbuh menjadi industri hiburan yang bersifat masif. Tidak ada pemerintah dari satu negara apalagi seorang guru dapat mencegahnya. Dengan semakin meluasnya media elektronik yang menyajikan film, merupakan suatu kemustahilan bagi guru untuk mencegah siswa menonton film. Apa yang dapat dilakukan guru adalah melakukan filterisasi  terhadap anasir-anasir dari film yang dapat merusak nalar pikir dan nalar emosi siswa  melalui penguatan pendidikan karakter baik melalui jalur intra-kurikuler dan ko-kurikuler. Pada satu sisi, keberhasilan guru dalam melakukan filterisasi terhadap anasir negatif dari film. Di sisi lain, filterisasi ini merupakan keberhasilan guru dalam optimalisasi misi pedagogis film.

Proses filterasi terhadap anasir negatif dari film tidak dilakukan dengan pendekatan dogmatif, yakni dengan memberikan argumentasi yang mengarah pada indoktrinasi siswa. Tetapi dilakukan dengan suasana dialogis pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi itu terjadi di dalam kelas ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung, maupun di luar kelas ketika terjadi pertemuan insidental antara guru dan siswa.

Filterisasi terhadap anasir negatif dari film, memang tidak bisa dilakukan dengan cara mencegah siswa untuk menonton film, tetapi sebaliknya bersama-sama dengan siswa menonton film melalui acara nonton bareng, menjadi sarana yang efektif bagi guru untuk optimalisasi misi pedagogis. Ketika pemutaran film sedang berlangsung guru dapat melakukan pengamatan langsung terhadap ekspresi dan reaksi siswa terhadap jalan ceritera dan aktor yang bermain dalam film tersebut. Diskusi tersebut, bukan guru tidak boleh berpretensi seolah-olah yang paling tahu terhadap jalan ceritera film dan karakter aktor film. Tetapi, dalam diskusi ini guru memfasilitasi dan mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat. Dalam diskusi tersebut, pendekatan contextual learning diterapkan.(***) (Sumber : Majalah Warta Sinema dari Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, edisi I,  April 2017).

 

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: