PARA MEO : PULANG DIJEMPUT WARGA BAGAI MENANG PERANG !

ntt-expos.com. Banain TTU. Liputan Khusus, Amos Ukat.Juli2016.

Lima Ratusan warga suku Kolo Kefi berdiri dipinggir-pinggir jalan menyambut kedatangan enam orang Meo. Warga berteriak-teriak girang, sementara para penari Gong menari-nari sambil mengacungkan pedang di atas kepala mereka serta membanting kaki yang terikat giring-giring, tambur gencar ditabuh, suasana ramai penuh kegembiraan. Dengan gagah perkasa, ke enam Meo turut menari-nari dengan pedangnya masing-masing, sementara terlihat dipinggang mereka, tergantung saku-saku kain yang berisikan rempah-rempah dari pepohonan alam Banain, yang akan dijadikan obat tradisional yang akan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit di masa mendatang.

Sesampainya di pintu pagara halaman rumah adat, tokoh-tokoh tua suku, menyapa para Meo itu dengan Tradisi Natoni. Para Meo membalasnya sesuai tujuan isi syair yang dilantunkan para tetua adat suku mereka.

Setelah Natoni dilakukan, tambur dan gong berbunyi, para penari meliuk-liuk tubuh mereka sambil mengangkat pedang tinggi di atas kepala, para Meo pun melompat-lombat sambil menari-nari diiring masuk ke depan tiang bercabang tiga, yang melambangkan kesatuan dalam tiga kekuatan besar yaitu Iman, Adat dan Pemerintah, tiga cabang ini disebut NIMONE.

Setiba di tiang Nimone, ke enam Meo, menggantungkan rempah-rempah yang diambilnya dari dalam hutan, pedang masing-masing dan pedang Kepala Suku peninggalan leluhur, serta mengikat seekor ayam jantan berwarna merah dikaki tiang Nimeo. Setelah itu, para Meo duduk melingkar tiang bercabang tiga tersebut hingga keesokan hari, menanti upacara pemberkatan dari Tuhan Pencipta lewat imam kudus dalam upacara Gereja Katolik yang dianut oleh suku Kolo Kefi Banain. Sebelum diberkati Imam Kudus dalam upacara Ibadat Kudus, maka rempah-rempah dan pedang tersebut beserta seekor ayam jantan merah, tidak boleh dimasukan ke dalam rumah adat.

Para penari pun malakukan aksinya dengan penuh semangat hingga Matahari terbenam. Para Meo pun duduk berjaga-jaga selama semalam suntuk. Pada malam hari sekitar pukul 21.00,WIT, Tarian Bonet dilakukan untuk menghibur pada Meo yang berjaga-jaga tersebut hingga pagi harinya. Bersambung. ( Amos Ukat ) NTTEXPOS.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: