PEKERJA BENGKEL MOTOR, KERJA TANPA UPAH POKOK !

ntt-expos.com. Kupang,19/10/2015.

“ Sudah bertahun-tahun kami bekerja di Bengkel motor tanpa ada gaji pokok atau bonus apapun. Sumber pendapatran kami hanya dari pemberian jasa kerja oleh pemilik kendaraan bermotor. Kalau ramai, hasil yang kami dapati bisa mencapai 70 ribu perhari, dan kalau sepih, kami hanya memperoleh 20 sampai 30 ribu rupiah seharinya. Kami sangat berharap para pemilik bengkel di kota Kupang ini, bisa memberikan sedikit upah tetap atau bonus bulanan bagi para montir. Walaupunb kecil nilainya, tentu akan dapat membantu para montir ketika menemui kesulitan hidup “.

Begitulah keluhan dari beberapa montir di bengkel-bengkel motor yang ada dalam kota Kupang ini.

KERJA TANPA UPAH POKOK ATAU BONUS, HIDUP TAK PERNAH BERUBAH

Kepada media ini, para montir yang sempat ditemui wartawan, mengatakan, semua bengkel yang ada di kota Kupang, tidak pernah memberikan upah tetap atau bonus bulanan kepada para pekerja. Hal ini membuat para montir sangat kesulitan apabila terjadi kecelakaan kerja atau sakit.

Para pengusaha bengkel tidak mau tahu segala kesulitan yang dialami oleh para montir. Yang mereka pikirkan adalah barang-barang atau alat-alat dan suku cadang kendaraan mereka bisa habis terjual. Mereka hanya mau terima pendapatan bersih saja tanpa peduli nasib yang dialami oleh pekerja dan montir bengkelnya.

Salah seorang montir senior disalasatu bengkel cukup terkenal di kota Kupang mengatakan, sebenarnya para pemilik bengkel bisa melakukan cara atau siasat, agar para montir diberikan bonus atau upah bulanan. Sekecil apapun bonus atau upah bulanan yang ada, sangat membantu mendorong para montir dan pekerja, supaya selalu giat bekerja.

MUSIBAH DAN KECELAKAAN KERJA TANGGUNG JAWAB PEKERJA

Katanya lagi, dari semua pekerja kecil yang ada di kota Kupang, mungkin pekerja bengkel motor roda dua saja yang benar-benar tidak diperhatikan oleh pengusahanya. Sebagai contoh, saat mengalami kecelakaan kerja, pengusaha bengkel tidak ambil peduli. Dan apabila motor yang diperbaiki jatuh dan lecet, juga menjadi tanggung jawab pekerja. Pekerja harus menggantikan kembali lewat pendatan jasa kerjanya yang tidak seberapa. Begitu juga, kunci-kunci yang dipakai montir untuk memperbaiki kendaraan yang datang, juga harus dibeli sendiri oleh para montir atau pekerja.

Dia menjelaskan, jika ramai, pendapatan montir bisa mencapai 70 ribu rupiah. Tetapi jika lagi sepih, para montir hanya bisa mendapati 20 sampai 25 ribu rupiah dalam seharinya. Dengan cara pendapatan seperti ini, tentu tidak mampu membiayai kebutuhan hidup keluarga.

ATURAN KETENAGAKERJAAN HARUS DITEGAKAN

Lain lagi yang dikatakan oleh salah satu montir senior dari bengkel yang sudah berdiri puluhan tahun. Dia mengatakan, sepertinya aturan tentang penggunaan tenaga kerja tidak berlaku bagi pekerja bengkel. Oleh karena itu, para pekerja bengkel hidupnya tidak pernah maju-maju walau sudah puluhan tahun bekerja tanpa bonus bulanan atau upah bulanan. Dinas Nakertras harus bisa memperhatikan nasib semua pekerja yang diperlakukan tidak sesuai dengan aturan pemerintah. Tanpa perhatian yang serius dari Dinas Nakertrans maka para pekerja kecil seperti pekerja bengkel ini, akan tetap terpuruk kehidupannya.harapan tentang kehidupan yang lebih baik akan menjadi mimpi-mimpi belaka.

OLI-OLI BEKAS DIJUAL UNTUK PEMILIK BENGKEL

Pengakuan salah seorang Montir, oli-oli yang sudah bekas, juga di tampung dalam drum-drum, kemudian dijual oleh pengusaja bengkel untuk pendatan mereka. Satu drum dijual 300 ribu rupiah. Oli-oli tersebut dibeli oleh pengusaha tertentu dan tidak tahu jelas untuk apa oli bekas itu mau dipergunakan. Para pengusaha bengkel tidak mau pernah menjelaskan pada para pekerja bengkel tentang kegunaan oli bekas yang selalu dibeli oleh pengusaha tertentu di bilangan kelurahan Oesapa. Hal ini dicurigai jangan sampai oli bekas tersebut dijadikan oplosan.

PENGUSAHA BENGKEL HARUS SIASATI ADANYA UPAH

Menurut pendapat salah satu montir tertuah bahwa sudah saatnya para pengusaha bengkel, melakukan upaya pengelolaan yang lebih bagus, dengan memberikan upah atau bonus bulanan kepada para pekerja atau montir bengkel. Tanpa melakukan hal ini, maka, para montir akan tidak betah bekerja disuatu bengkel tertentu.

Jika montir yang sudah miliki banyak langganan, lalu keluar ke tempat yang lain, tentu para langganan mereka akan pindah juga ke tempat kerja para montir yang sudah dipercayai mereka. Jika hal ini terjadi terus menerus, maka pengusaha bengkel tertentu akan merasa rugi.Dia menambahkan, apabila adanya ikatan, bonus atau upah, yang walaupun sedikit, tentu akan membuat para montir betah bekerja dengan setia.

Montir tua yang sudah berumur lebih setengah abad ini, menjelaskan, untuk bisa memberikan bonus bulanan atau semacam upah bulanan, maka pengusaha bengkel tentu perlu mengelolah managemen yang ada secara baik atau melakukan siasat-siasat tertentu yang bisa dijadikan bonus atau upah bulanan bagi para pekerja bengkel atau montir bengkel. Klasifikasi besaran bonus atau upah, tentu diatur sesuai keahlian para pekerja dan para montir. (NTT EXPOS. 03).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: