SETELAH PEMBERKATAN : PEDANG DAN REMPAH-REMPAH DIMASUKAN KE RUMAH ADAT

ntt-expos.com. Banain-TTU, 14 Juli 2016. Liputan Khusus Amos Ukat.

Siang itu, langit mendung, awan gelap, hujan dank abut menyelimuti kampung Banain. Terlihat di halaman rumah adat, ribuan warga suku Kolo Kefi dan Warga Suku Kepala Nait Atlulus, memenuhi halaman rumah adat Kolo Kefi, menyaksikan upacara pemberkatan rempah-rempah dan pedang rumah adat serta seekor ayam jantan merah, dalam upacara religious Gereja Katolih. Tampak Imam Katolih, sedang memimpin jalannya upacara Religius yang sakral.

Para Meo yang terdiri dari 6 orang duduk paling depan dan berhadapan langsung dengan Pastor Pemimpin Upacara Misa Kudus. Para Koor dan seluruh yang hadir menyanyikan lagu-lagu rohani dalam bahasa Dawan yang merdu dan hikhmat.

Dalam khotbah, Imam, yakni Pastor, atas nama pihak Gereja Iman, menjelaskan arti pemberkatan, yaitu, agar rempah-rempah yang akan dijadikan obat-obatan menyembuhkan penyakit warga suku, harus benar-benar obat yang sesuai dengan ajaran agama. Lalu tugas para Meo, harus dijalankan dengan benar sesuai bimbingan Tuhan Maha Kuasa.

Pastor mengharapkan, rumah adat tidak dijadikan rumah tempat berdiamnya kejahatan-kejahatan yang melanggar ajaran kebenaran iman yang dianut. Rempah-rempah harus yang berkasiat baik untuk kesehatan dan kenyamanan hidup warga suku, dan bukan dijadikan obat yang menyesatkan orang menjadi Pencuri,Perampok,Pembunuh,Penipu dan yang jahat lainnya.

Setelah Khotbah, Pastor memberkati rempah-rempah, pedang para Meo, Pedang Penjaga Rumah Adat yang dianggap keramat, seekor ayam jantan milik rumah adat, ke enam orang yang terpilih menjadi Meo Suku Kolo Kefi, dan memberkati seluruh warga suku, dan seluruh umat yang hadir.

Setelah pemberkatan tersebut, para Meo diperbolehkan masuk membawa rempah-rempah, dan pedang ke dalam Rumah Adata itu. Sedangkan Ayam Jantan Merah dilepas hidup diluar rumah adat.

Para Meo yang masuk ke dalam rumah adat itu, yang masuk urutan pertama adalah ketua suku rumah adat Kolo Kefi, lalun diikuti oleh lima Meo Lainnya, serta beberapa tokoh tua-tua adat lainnya.

Ke Enam Meo itu, berdiam diri dalam rumah adat selama 8 hari baru boleh keluar dan membaur dengan warga-warga suku. Selama 8 hari, ke enam Meo, tidak boleh berkumpul dengan anak dan isterinya. Selama 8 hari itu juga, kaum perempuan tidak boleh bertegur sapa dengan ke enam Meo tersebut. ( Amos Ukat).NTTEXPOS.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: