PEMIMPIN POLITIK DAN HARAPAN RAKYAT, Oleh : Dr. Hengky Kaluge,M.Pd.

Dr. Hengky Kaluge,M.Pd.
( Staf Dosen Unwira Kupang )

Menurut pengamatannya,Budaya Politik kita masih bersifat Parokial, masyarakat tidak
memiliki sarana lain untuk mengetahui secara detail tentang elite – elit politik, masyarakat hanya mengenalnya ketika sang Calon datang membagi-bagikan uang, sang calon menggunakan mimbar agama untuk berbicara tentang Tuhan untuk kepentingan politiknya, sehingga rakyat tidak punya alternatif lain untuk memilih di luar hal-hal yang pragmatis. Tidak ada kesadaran secara otonom untuk menentukan dan memilih kandidat mana yang berbobot dan kandidat mana yang berbohong
.
Kurangnya para tokoh politik kita melakukan pendidikan politik bagi masyarakat. Para Elite Politik sering hanya melakukan Kotbah politik yang retoris. Karakter ini menguasai Elite Politik kita sehingga apa yang mau diharapakan dari para elite politik kita ?. Masyarakat tidak dilibatkan secara baik dalam berpendidikan Politik, tidak adanya dialektika demokrasi yang bisa munculkan pemimpin yang dipercaya dan diharapkan.

Hengky menambahkan, melihat tingkat kemiskinan masyarakat kita, maka politik uang bisa mendikte seseorang untuk memilih calon tertentu karena sudah menerima dan menikmati uangnya, dan hal ini menyebabkan rakyat akan memilih bukan karena fakta dan hati nurani, tetapi karena uang semata. Dan jika selalu memberikan uang pada rakyat untuk memilihnya, maka sudah tentu Calon tersebut mengeluarkan uang dalam jumlah besar, lalu ketika menjabat jadi pemimpin, maka bukan tidak mungkin, bahwa sang pemimpin itu akan melakukan Aksi pertama- pertama adalah, mencari uang, bahkan menggaruk dana-dana milik rakyat demi menutupi kembali utang-utang saat sosialisai diri maupun saat melancarkan serangan fajar dengan uangnya, atau uang hasil utangnya.

Lalu pertanyannya, mampukah Pemimpin itu bekerja hanya demi kepentingan rakyatnya ?, jawabannya pasti belum atau bahkan tidak mampu, sebab Pemimpin itu masih sibuk mengurus uang untuk menutupi kerugian saat sosialisasi diri dan Kampanye dulu. Dan sudah pasti, rakyatnya semakin susah dan menderita. “ Kebutuhan rakyat akan didiamkan begitu saja, sebab dia beranggapan bahwa suara dukungan yang diperoleh dari rakyat, telah dibeli murah dengan pemberian uang waktu sosialisasi dan kampanye dulu, itu artinya tidak secara langsung uang rakyat akan digunakan sang pemimpin untuk melunasi utang-utang , karena rakyat telah menerima
uang terlebih dahulu, hal ini, rakyat juga yang menjadi sengsara, sebab harapannya tidak pernah di jawab oleh sang pemimpinnya “. Ujar Hengky.

Kata nya, kita butuh pemimpin yang tidak melekat pada uang, kita butuh pemimpin yang sejalan dengan kata dan sikap, kita butuh pemimpin yang berkualitas, jujur dan rendah hati. Jadi bukan karena arak-arakan ribuan masa pendukung dengan spanduk dan baliho yang ramai, tetapi tidak menjamin kualitas sang pemimpin itu, kita butuh pemimpin yang mampu merobah stigma 4 K, yaitu, “ Kemiskinan, Kelaparan, Kekeringan, dan keterbelakangan, dia harus bisa merobah stigma ini menuju kehidupan
rakyatnya yang lebih baik, tandas Hengky serius.

Hengky melanjutkan, memang tidak mudah merobah Stigma 4K ini, namun apapun kendalanya, pemimpin kita harus bisa membuat perobahanperobahan menuju kehidupan rakyatnya yang lebih baik, paling tidak ada perobahan ketika dia menjabat sebagai Pemimpin.

Belajar Dari Kehidupan Masyarakat Untuk Tentukan Sikap Yang Bijak

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memahami betul penderitaan rakyatnya, dia harus belajar dari masyarakatnya, turun dan ikut merasakan derita yang dialami rakyatnya, dia harus bisa memberikan motivasi pada rakyatnya untuk sama-sama berjuang mencari jalan keluar untuk bisa merobah hidup rakyatnya. Karena tanpa turun langsung dan belajar dari penderitaan rakyatnya, maka pemimpin itu tidak akan tahu pasti apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh masyarakatnya, program apa yang ccocok dan pantas diterapkan agar bisa menyelamatkan rakyatnya dari penderitaan hidup mereka, pungkas Hengky

Katanya lagi, Pemimpin yang baik, tidak menghamburkan janji-janji yang nantinya sulit untuk dilakukan, tetapi sedikit bicara tapi banyak kerja. Pemimpin yang baik adalah Pemimpin yang tidak hanya duduk-duduk dikursi kekuasaannya , tetapi harus banyak turun ketengah masyarakat, bersikap sederhana, melihat dan memberikan dorongan serta perhatian ketika rakyatnya menemukan kendala hidup, menciptakan suasana yang akrab agar rakyat merasa dekat dengannya, bersedia dan selalu berdialog dengan rakyatnya, sehingga rakyat akan memahami benar apa yang menjadi kekurangan bersama dalam usaha mensejahterakan mereka, dan apa yang menjadi kendala utama dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan itu.

Dengan sikap merakyat ini, maka sang pemimpin akan dipercaya dan disayangi rakyatnya, sehingga ketika ingin mencalonkan diri lagi untuk menjadi pemimpin mereka, sosok pemimpin ini tak perlu lagi banyak sosialisasi dan banyak kampanye sebab rakyat akan selalu dan tetap memihak dan memilihnya menjadi pemimpin mereka.

Menurut Hengky, dari pengamatannya selama ini, maka yang juga sangat penting bahwa, masyarakat Kota Kupang dewasa ini , sedang mengharapkan Pemimpin yang Konsisten dalam Bersikap dan mau berkorban , mampu merangkul semua pembantu- pembantu yang dekat dengannya dan bersama dengan berbagai elemen masyarakat
yang punya potensi, untuk bekerjasama untuk melayani semua kepentingan rakyat Kota Kupang yang Pluralis ini. ( EP.01).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: