PERAN PERFILMAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KREATIF DI NUSA TENGGARA TIMUR

“ Dunia kini memasuki era industry ekonomi kreatuif (creative economic industry). Industri ekonomi kreatif diprediksi akan menjadi indusatri masa depan sebagai fourth wave industry (industry gelombang keempat), yang menekankan pada gagasan dan ide kreatif. Potensi industi kreatif dalam sektor ekonomi kreatif ke depannya akan tetap menjadi sebuah alternatif penting dalam meningkatkan kontribusi di bidang ekonomi dan bisnis meningkatkan kualitas hidup masyarakat, media komunikasi, menumbuhkan inovasi dan kreativitas, dan menguatkan identitas suatu daerah “. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Welly Rame Rohimone,MM, ketika melakukan pemaparan materi dalam acara Sosialisasi Undang-Undang Perfilman Nomor 33 Tahun 2009, yang bertemakan Perfilman sebagai Media Komunikasi Masa Yang Merupakan Wahana Promosi NTT, bertempat di AULA Hotel Pelangi Kupang, pada Kamis, 07 Mei 2015.

Dihadapan Para Insan Perfilman berjumlah 50 orang, Welly mengatakan, para ekonomi kreatif dalam perekonomian NTT serta karakteristik yang terkenal dengan keragaman sosial budaya yang tersebar di seluruh pelosok NTT tentunya dapat menjadi sumber inspirasi dalam melakukan pengembangan industri kreatif.

Dia menjelaskan, tingginya kreativitas yang telah tertananm dalam kehidupan masyarakat dan didukung keragaman etnis, menunjukkan NTT memiliki faktor pendukung kuat dalam melakukan pengembangan ekonomi kreatif.

Salah satu wujud kebudayaan dalam bentuk fisiknya berupa artefak dari hasil aktifitas, perbuatan dan karya yang dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan warisan budaya didalamnya memiliki banyak nilai kreatifitas yang menekankan pada aspek art, social, empathy, ceremony, dan lain-lain.

Katanya, keragaman budaya yang didukung dengan keragaman etnis menandakan tingginya kreatifitas, telah tertanam daklam masyarakat mencirikan keahlian spesifik dan talenta yang dimiliki. Dengan demikian NTT memiliki faktor pendukung yang sangat kuat dalam melakukan pengembangan ekonomi kreatif. Menumbuhkembangkan ekonomi kreatif tidak bisa lepas dari budaya setempat dan budaya harus menjadi basis pengembangannya.

Dia menjelaskan lagi, dalam kebudayaan lokal, ada yang disebut dengan kearifan lokal menjadi nia-nilai bermakna, antara lain, diterjemahkan kedalam bentuk fisik berupa produk kreatif daerah setempat. Ekonomi kreatif yang dapat dijadikan sebagai sosial enterprise bagi masyarakat disuatu daerah adalah industri kreatif bebasis budaya lokal yang kini sedang digemari masyarakat internasional dan juga sebagai pemberdayaan kemandirian masyarakat berbasis kearifan lokal, contohnya di Bali.

Dikatakannya, tidak hanya di Bali, di NTT mempunyai banyak budaya khas dengan karakteristik yang unik tetapi belum tergali potensinya sebagai industri kretif.
Mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya dan kearifan local adalah solusi untuk menstimulus perkembangan ekonomi kreatif agar bisa mandiri dan bisa mengembangkan usaha.

NTT memiliki potensi produk yang bisa diangkat dan dikembangkan. Keunikan dan kekhasan produk lokal kemudian ditambah unsur kreatifitas melalui sentuhan teknologi.
Wujud kebudayaan daerah yang tersebar tersebut seperti rumah adat, tarian, musik, alat musik, gambar , suara, sastra/tulisan dan makanan. Wujud-wujud kebudayaan tersebut mencirikan kreatifitas yangtertanam didalamnya serta didukung oleh lingkungan kreatifitas yang bertlangsung antar generasi.

Dia melanjutkan, terdapat empat belas sub sektor industri kreatif menurut Kemenparekraf yang meliputi : periklanan; arsitektur; pasar dan barang seni; kerajinan; desain; fesyen; film, video dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; televisi dan radio; riset dan pengembangan, dapat dikembangkan dengan keragaman budaya yang ada serta saling mendukung karena faktor pendukung yang tercipta dalam kebudayaan.

Welly mencontohkan, , Semua pasti kenal dengan tokoh kartun angry bird dan shaun the sheep. Mereka adalah dua tokoh kartun yang sedang naik daun saat ini.bentuknya yang lucu, imut dan menarik membuat anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua menyukainya. Tokoh shaun the sheep lebih dikenal lewat serial kartunnya sedangkan angry birds dikenal lewat games-gamesnya. Dua tokoh kartun tersebut merupakan contoh produk ekonomi kreatif. Bukan hanya dalam bentuk serial kartun atau games, mereka banyak dijumpai dalam bentuk boneka, gantungan, kunci, sandal, bantal, dll. Hampir disemua jenis tokoh kita dapat menjumpainya. Dua produk dari inggris dan amerika yang sesungguhnya bisa dijadikan contoh untuk pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia khususnya di NTT.

Dijelaskannya, batik memberikan kontribusi yang tinggi bagi perekonomian Indonesia. Dari jumlah nilai 200 miliar US Dollar ekspor Indonesia yang ada saat ini, batik menyumbangkan 700 hingga 800 juta US Dollar. Angka yang sangat fantastis.

Menurutnya, ekonomi kreatif di Indonesia sebenarnya cukup memegang peranan yang penting bagi Negara . industry kreatif telah menyumbang Rp 104,4 triliun, atau rata-rata 4,75% terdapat GNP ( Gross National Product ). Jumlah ini melebihi sumbangan sector listrik, gas, dan air bersih. Tiga subsector yang memberikan kontribusi paling besar nasional adalah fashion 30%, kerajinan 23% dan periklanan 18%.

Welly mengharapkan, dalam pengembangan ekonomi kreatif, Indonesia harus belajar dari Negara-negara maju, seperti Amerika dengan film Hollywoodnya, India dengan film Bollywoodnya, Jepang dengan animasi kartunnya, Korea dengan industry musiknya, Dll. Sedangkan di NTT Perfilman nasional dan local sudah ada tetapi belum berkembang dengan baik. ( NTT EXPOS.02).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: