Ratusan Siswa-Siswi Nontong Bareng Film Dokumenter “TRAGEDI PUKU AFU “

IMG_1690“ Tujuan Program Pemutaran Film-Film Dokumenter karya Anak Daerah NTT ini, adalah untuk pembentukan karakter generasi muda kita, sebab film-film Dokumenter daerah memiliki nilai Tradisi Budaya kita yang masih asli yang penuh dengan etika hidup yang patut dicontohi “.

Hal ini diungkapkan oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs.Valens Bhalu, yang ditemui media ini di Bioskop Film SMA Negeri 3 Kupang, pada selasa,15 Desember 2015.

Kepada Media ini, dia mengatakan, pemerintah selalu mendukung upaya-upaya yang bersifat pembentukan karakter anak-anak sekolah lewat berbagai cara, dan program pemutaran ini merupakan awal yang baik untuk memaparkan karakter asli kehidupan masyarakat NT.

lewat film-film Dokumenter yang bernilai Sejarah, Budaya, Perjuangan Pendidikan, Patriotisme, IMG_1706tentunya memiliki nilai-nilai yang patut dicontohi oleh anak-anak sekolah kita, tandasnya.

Katanya lagi, Dalam Program kali ini, pihaknya akan memutar beberapa film yang bernuansa Pendidikan, Sejarah, dan Budaya, yang berjudul antara lain : Kosu Wena Keri dari Ngada, Ine Pare dari Ende, Tragedi Puku Afu dari Rote, dan Dilemma dari kota Kupang. Pemutaran Film dilaksanakan sejak Hari ini, Selasa 15 Desember sampai 17 Desember 2015.

Dia mengakhiri, semoga dengan pemutaran Film-Film Karya anak daerah ini, bisa memberikan nilai-nilai yang baik bagi siswa-siswa yang menyaksikannya, serta bisa memberikan dorongan kepada anak-anak sekolah , agar kedepannya, mampu berkarya sebagai penulis scenario film, sebagai kamaramen, hingga bisa memproduksi film-film sendiri , dengan memakai ceritera-ceritera rakyat yang ada di NTT.

IMG_1711“ Kami akan terus berjuang memutar film-film karya anak-anak daerah kita yang memiliki nilai budaya,pendidikan dan sejarah perjuangan, sehingga masyarakat NTT, terlebih anak-anak sekolah kita bisa tertarik untuk mencintai film-film documenter daerahnya, sehingga Film-Film Luar yang berpotensi tidak mendidik, perlahan-lahan bisa ditinggalkan oleh generasi penerus kita”, ungkap Valen, mengakhiri pembicaraannya. ( NTTEXPOS.002)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: