ROBAH NASIB PEMULUNG DENGAN PENDIDIKAN LAYAK

Satu hari alpa sekolah, bayar 5000 rupiah. Kalau tidak bayar, kena hukuman keras. Jika tidak mampu bayar, terpaksa putus sekolah. Inilah fakta yang dialami dan diungkapkan oleh Keluarga Pemulung, Minggus Lenggu ( 60 Tahun) dan Isterinya, Ana ( 45 Tahun, saat ditemui oleh Wartawan Media ini di Lokasi TPA Sampah Kelurahan Alak Kotra Kupang, pada beberapa hari lalu.

Kata Minggus, dia sangat mengharapkan anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan yang layak, namun karena kendala ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya. Oleh karena itu, Minggus dan beberapa keluarga yang tinggal di tempat pembuangan sampah akhir ini, sangat mengharapkan perhatian pemerintah Kota Kupang, agar anak-anak mereka yang putus sekolah bisa melanjutkan sekolahnya.

Minggus yang memiliki 4 orang anak ini, menjelaskan, mulanya anak-anak mereka bersekolah di SMP dan SD yang terletak di pusat Kota Kecamatan alak, namun, karena kendala ekonomi membuat mereka hgarus memberhentikan studi anak-anak mereka ditengah jalan.

Kata minggus dan teman-temannya, karena jarak sekolah cukup jauh dari lokasi tinggal mereka, kurang lebih pulang pergi sejauh 14 Kilometer, dan ditempuh dengan jalan kaki, maka anak-anak mereka sering terlambat tiba di sekolah. Dan kadangkala anak-anak mereka tidak masuk sekolah karena di usir oleh para guru.

Dan karena diusir, maka anak-anak mereka harus alpa, dan kalau sudah alpa, anak-anak mereka harus bayar uang alpa sebesar 5000 rupiah per hari. Kalau tidak punya uang, mereka takut ke sekolah, dan kalau sudah takut ke sekolah maka makin banyak jumlah hari alpanya. Kalau sudah makin banyak hari alpa, mereka pasti tidak mampu lagi membayar uang alpa. Dan karena tidak mampu membayar uang alpa, maka, anak-anak mereka merasa malu dan tidak mau ke sekolah lagi.

Minggus melanjutkan, kalau sudah lama tidak masuk sekolah, anak-anak mereka pasti dikeluarkan darti sekolahnya. Inilah yang dialami oleh mereka selama ini dan menyebabkan anak-anak mereka tidak sekolah lagi.

“Bekerja sebagai bekerja penjual sampah, pendapatan kami tidak menentu. Untuk makan sehari-hari saja sulit kami peroleh, jadi kalau harus bayar uang alpa, kami tentu tidak mampu “ ucap Minggus dengan sedih.

Kepada Pemerintah Kota Kupang, Minggus berharap bisa menegur pihak sekolahn-sekolah yang melakukan pungutan uang alpa bagi anak-anak pemulung. Katanya, kalau bisa, anak-anak miskin yang alpa dan tidak mampu bayar, sebaiknya diberikan denda dengan cara lain, sehingga anak-anak miskin bisa bersekolah terus. Pihak sekolah juga, yang memberlakukan denda membayar dengan uang , harus melihat latar belakang kehidupan para siswanya, kalau tidak, anak-anak miskin tidak akan mampu mencapai pendidikan yang layak.

“ Untuk memperbaiki kehidupan kami, jalan satu-satunya anak-anak kami harus bisa mendapat pendidikan yang layak. Kalau cara menjalankan pendidikan seperti ini, anak-anak kami pasti tetap hidup terkebelakang, dan hidup masa depan anak-anak kami akan menjadi tidak menentu “, tandas Minggus menngakhiri pembicaraannya.
( NTT.EXPOS.003).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: