ROMO GERALDUS SALU,PR .” TRADISI KURE “ BUDAYA MENYATU DENGAN GEREJA IMAN !

liputan Khusus Budaya KURE di Kote-Noemuti–TTU

Ntt-expos.com. Tgl.22 sampai 28/03/2016.

IMG_4568“ Iman itu masuk dalam pertanian, yakni dalam kerja nyata untuk hasil yang memperkuat kebersamaan dan persaudaraan yang erat. Hasil bumi yg diperoleh menjadi hasil yg Religius, dan mendorong orang semakin mencintai Pertanian. Jadi, Religius juga masuk dalam pertanian. dengan hasil Pertanian yang Religus akan membuat orang lebih mencitai Tuhan “. Inilah pernyataan Romo Geraldus Sallu,PR, ketika temu Wartawan dihalaman Gereja Paroki Hati Kudus Yesus, di Kote-Noemuti, sehabis mengikuti KURE bersama Rombongan Bupati dan Masyarakat Noemuti, pada Jumad, 25/03/2016.

Romo Geraldus Sallu, PR, yang juaga adalah Dekenat Gereja Katolikh, Wilayah TTU, menjelaskan, walaupun terjepit oleh pengaruh Zaman Modernisasi, namun Tradisi KURE masih ada karena ada peninggalan barang-barang Religius yang dimiliki oleh umat disetiap rumah-rumah suku. Timbul pertanyaan, bagaimana barang-barang religius berupa Salip, Patung, bisa masuk dan berada disetiap rumah-rumah adat ?.

Dijelaskannya, memang sesuai Konsili Vatikan II, tidak ada ruang untuk itu, namun, inkulturasi sudah terjadi dalam wilayah Noemuti, jauh sebelum lahirnya Konsili Vatikan II. Gereja sudah masuk kerumah-rumah adat ini, jauh sebelum ada keputusan gereja sendiri tentang budaya yang patut diakui.

Romo Gerealdus, melanjutkan, rumah-rumah adat itu menjanjikan kebersamaan dan kekeluargaan yang mengikat, karena setiap Tradisi Kure dilakuan, setiap warganya selalu membawa berbagai hasil bumi kerumah adatnya, yakni pada hari rabu,kamis,jumat dalam paskah. Maka terjadilah, nilai ekonomi diambil kembali ke gereja sebagai nilai religius, yakni, tebu dan buah-buahan adalah hasil yang bisa menjadi ekomi. Padahal dulunya, tebu itu senjata dan buah itu peluru, yang digunakan untuk berperang.

Kini, tebu menjadi lambang ekonomi,untuk memaniskan persaudaraan dalam kekeluargaan yang manis pula. Sedangkan, buah-buahan adalah makanan yang bisa dimakan bersama yang melambangkan semua bersatu merasakan apa yang dimiliki bersama. Jadi, nilai ekonomis dijadikan nilai religius. Gereja sangat memperhatikan budaya ini dari dulu sehingga ada sampai sekarang. Kerinduan gereja agar orang bisa datang mengikuti Kure dengan Aman, dan sudah terjawab dengan adanya jembatan yang dibuat pemerintah.

Romo Geraldus, mengharapkan, semoga kedepanya, KURE akan semakin baik dilakukan dengan kemasan religius dan budaya yang kompak, lewat keinginan bersama umat dan tokoh adat, dalam mengikuti zaman, namun tidak menghilangkan keasliannya. Kure harus dan harus tetap dilakukan karena memiliki Nilai Luhur, yaitu, budaya menyatu dengan Gereja Iman, yakni, iman menyatu dengan kehidupan umat dan masyarakat, miliki nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang mengikat.

Katanya, semakin melakukan KURE,maka hidup kekeluargaan semakin baik, jika hidup kel;uarga baik, maka masyarakat akan hidup semakin baik pula. Nilai berbagi saling mengasihi dengan hasil pertanian yang dimiliki. Dan pertanian yang berhasil baik, akan membuat orang akan hidup layak, orang akan selalu mencintai kasih Tuhan. Ajaran ini sudah dipratekkan jauh ratusan tahun oleh Misionaris dan leluhur kita dulu. Inilah ajaran nilai kasih dalam kebersamaan.

Romo Deken, Geraldus Sallu,PR, mengisahkan, para Misionaris kita membuat Gereja pertama di TTU, yaitu di Kote Noemuti ini, pada Thn 1924. Gereja Noemuti Kote saat itu menjadi stasi dari Oekusi yang sekarang berada pada Kekuasaan Negara Timor Leste. Dengan Ajaran para Misionaris yang mewariskan berbagai Nilai Luhur tersebut, maka dipastikan bahwa Budaya KURE adalah hal yg baik, dank arena itu, kita harus mengajak orang untuk mencintai Budaya ini.

Romo Geraldus, mengakhiri, gereja akan selalu membuka ruang bagi umat untuk ber-KURE, memakai atribut daerah agar tradisi ini lebih membudaya dan miliki nilai Budaya Religius. Jika KURE dijadikan pemerintah TTU menjadi Wisata Budaya dan Wisata Religius, akan patut karena memiliki dasar yang kuat dengan kandungan nilai-nilai luhur diatas. Gereja sangat mencitai budaya, semua itu tercermin, karena para iman selalu memakai atribut-atribut budaya saat memimpin misa, Gereja juga melaksanakan Misa dalam bahasa Dawan pada berbagai kesempatan. Dengan cara ini, Gereja selalu mengajak umatnya untuk setia mencintai budayanya. ( NTTEXPOS.COM.BRIAN ).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: