SE’I TRADISIONAL YANG MEMBUMI, PEMERINTAH LINDUNGI HAK CIPTA

Kupang. 20. Juni 2015
Begitu bfoto 001anyak Karya Tradisional Kita di NTT yang patut mendapat perlindungan dari pihak pemerintah. Pemerintah Harus bisa memberikan legalitas suatu karya cipta yang di lakukan oleh masyarakat kita. Hal ini di Ungkapkan oleh Gaspar Tiran, pncetus dan pencipta buatan Se’I daging babi, yang dikelolahnya secara Tradisional dan memiliki rasa yang lezat serta gurih , sehingga kini sangat digemari oleh lapisan masyarakat kota Kupang NTT, maupun masyarakat dari luar Nusa Tenggara Timur.

Kepada Media ini, Minggu,06 Juni 2015, di Kediamannya, Kampung Soba-Baun, dia mengatakan, mulanya, pada tahun 1997, dia hanya berjualan daging milik orang, dengan cara memikul daging babi mentah berkeliling kota Kupang. Malang melintang dia berusaha berjualan kesana-kemari, namun, kadang daging babi yang dijualnya tidak laku dan harus menanggung kerugian bersama pemilik modal usaha.
Dengan pengalaman yang selalu rugi itu , Gaspar Tiran, mulai mencari jalan, bagaimana mengolah daging jualannya untuk bisa terjual sesuai harapan. Tekad bulatnya, membuat dia harus utang pinjam untuk bisa membeliu Hewan Babi agar bisa dikelolah sendiri. Maka dengan modal sendiri, Gaspar Tiran mencoba membuat daging Se’I dengan cara panggang dengan arang kayu bakar, namun, belum juga menampakkan keberhasilan.
Diapun mencoba mencari akal dengan cara meramu daun-daun alamiah serta tata cara panggang yang bisa digemari orang. Semua bahan almiah dicobanya, dan ternyata, selama tiga tahun dia mencoba terus menerus. Gaspar Tiran mencoba panggang berasap dengan menggunakan Daun Kusambi, dan akhirnya tata cara penggang asap yang dilakukannya, kini sangat digemari oleh lapisan masyarakat
dari dalam NTT maupun dari luar NTT, bahkan , daging Se’I Tradisional yang dibuatnya itu, digemari sampai ke Hongkong, Italia, Australia dan Kanada. Toko-toko yang berada di pusat Kota Kupang, kini selalu memesan dan berjualan daging Se’I buatan Gaspar Tiran.
Pengakuan beberapa warga yang selalu berkunjung dan menikmati daging Se’I di tempat produksi Gaspar, mengatakan, daging Se’I buatan Gaspar amat lezat dan Gurih, oleh karena itu, mereka selalu datang ke kampong Soba-baun, untuk menikmatinya sambil memandang panorama alam yang sejuk dan hijau di kampong Soba.
Gaspar Tiran menjelaskan, dirinya sangat berterimakasih kepada Pihak Direktorat Jenderal Kebudayaan foto 003Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Budaya Bali,NTB dan NTT, lewat Program Perlindungan Karya Budaya, yang telah berkunjung ke tempatnya, untuk memproduksi Film Dokumenter tentang tata cara pembuatan Se’I secara tradisional yang ia lakukan bersama komunitasnya.
Lewat kesempatan ini, Gaspar Tiran meminta, agar pemerintah berkenan memberikan legalitas bagi usahanya di bidang pembuatan Se’I Babi yang pertama. Pemerintah harus berkenan memberikan Hak Cipta bagi karyanya sebagai orang pertama yang menciptakan Se’I babi Tradisional ini.
Sesuai pengamatan Media ini , di lokasi pembuatan Se’I Gaspar Tiran, cara dia melakukan Se’I, adalah, Pertama Hewan babi di Potong, kemudian membakar hewan itu dengan daun kelapa kering, membersihkan dengan air dan menggosok tubuh hewan itu dengan batu kali. Setelah benar-benar bersih, Hewan babi itu di potong untuk memisahklan kepala,tulang,isi dan darahnya. Tulang,Kepala, kulit, darah dan perut, dijual umum kepada masyarakat, sedangkan isi daging dilolak atau diiris panjang untuk dijadikan Se’i. Kedua tulang rusuk atau iga juga di p-anggang untuk dijual kepada penggemar Se’I yang selalu memesan khusus.
Kemudian, isi daging yang di lolak panjang itu, dicampur bumbu khusus lalu ditarus di atas rak panggang yang terbuat dari batang-batang kayu Lamatoro. Setelah isi daging lolak panjang di taruh di atas rak, maka langsung ditutup dengan daun kusambi., kemudian arang kayu yang telah menjadi bara dibiarkan berasap mengenai daging lolak tersebut.
foto 002Setelah setengah matang, daging – daging tersebut diminyaki dengan minyak kelapa asli, lalu kembali dipanggang dan ditutupi lagi dengan Daun Kusambi mentah. Dan kuranbg lebih 2 Jam kemudian, daging-daging lolak tersebut telah matang dan menjadi Se’I, yang siap dimakan.

 
Menurut pengakuan Gaspar Tiran, sebelum hewan Babi dijadikan daging, terdahulu dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan. Jika Hewan babi itu tiudak sehat, maka, hewan tersebvut tidak boleh digunakan sebagai Se’i. “ Jadi hewan babi yang dijadikan Se’I adalah Hewan yang benar-benar Sehat dan segar, sehingga terasa lezat dan gurih”, ucap Gaspar mengakhiri. ( EXPOS NTT.002).


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: