SETELAH SEPA API DILAKUKAN , HUJAN GERIMIS TURUN SEKETIKA !

ntt-expos.com. 30/07/2016.
Liputan Khusus dari Pautola-Nagekeo, Oleh Jessie dan Andre.

BAGIAN KEDUA : SEPA API

Setelah prosesi semalam suntuk, dari tanggal 24 malam, hingga memasuki tanggal 25/07/2016, pukul, 05.05 Subuh, Warga suku menjemput tempurung kelapa dari empat rumah anak suku yang disebut Ana Susu, yaitu, dari Ana Susu, Yoseph Dhaga, Ana Susu, Hipo Loa, Ana Susu, Nobertus Mado dan Ana Susu Geradus Guda. Sambil menari –nari dan menyanyi lagu Tradisi oa api-oa api, warga suku berdiri menanti di depan pintu setiap rumah Ana Susu menanti diberikannya tempurung kelsapa kering. Setelah mendapatkannya,, warga suku langsung mengantarnya ke halaman Rumah adat Enda yang berada ditengah-tengah kampung Pau tersebut.

Setiap Ana Susu memberikan 7 tempurung kelapa untuk dibakar menjadi bara api. Jumlah semua tempurung yang dijadikan bara api berjumlah 28 buah. Setelah semua tempurung kelapa terkumpul dihalaman rumah adat Enda, para Ana Susu, menjemput Penendang Api,yang bernama, Alosius Aka, dari rumah adat Daga Bara, untuk melakukan tendangan atau Sepa Api tempurung yang membara dihalaman rumah Adat Enda, yakni, rumah Adat milik dua suku besar yaitu, Suku Pau dan Suku Toda bersama 10 anak Suku mereka.
Menurut adat mereka, penendang api hanyalah suku tertentu saja, yang secara turun temurun bertugas melakukan sepa api ( Sepak Api). Suku lain tidak boleh melakukannya, dan apabila suku ini berhalangan, maka acara sepa api akan ditunda waktu pelaksanaannya.

Dari rumah Daga Bara, Alosius Aka, menari-nari menuruni tangga rumah dek itu, dengan mengacungkan kedua sapu tangannya tinggi di atas kepalanya. Para Ana Susu mengawalnya menuju halaman rumah Enda. Nyanyian oa api oa api, semakin semarak dilakukan warga.
Sambil menari-nari bersama, Alosius Aka, berputar-putar mengelilingi gumpalan bara api yang akan ditendangnya. Para penari lainnya menari mengelilingi Alosius Aka sambil menyanyi-nyanyi penuh semangat.

Alosius Aka, semakin semangat menggerakkan kaki dan tangannya dengan gesit sambil bernyanyi dan berteriak-teriak dengan bahasa adat, dan tiba-tiba, dengan kecepatan seperti angin kencang, kaki kanan Alosius Aka, menendang keras tumpukan bara api dari 28 tempurung kelapa dihadapannya, arang membara itu beterbangan dan berserakan, pada waktu itu juga warga suku pun langsung menginjak-nginjak bara api itu hingga padam seketika dan hancur menjadi debuh……

Tetua adat dan warga lainnya bertepuk tangan dan memberikan pujian kepada warga yang baru saja mematikan bara api dengan kaki telanjang, tanpa mengalami luka bakar sedikitpun pada kaki mereka.
Berselang 1 menit kemudian, hujan gerimis pun turun membasahi kampung Pau tersebut. Kabut pagi mulai menutupi atap langit kampung Pau. Kulitpun mulai terasa dingin seketika.
Terlihat Para Tua-Tua adat kembali kerumah masing-masing untuk mempersiapkan diri melakukan upacara KATODO PALE, yang merupakan rangkaian akhir dari seluruh acara ritual malam itu. Bersambung…… ( NTTEXPOS).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: