SIRAMAN ROHANI : LUKAS 15 : 11 -32. “ BAPA YANG SANGAT BAIK “

Oleh : Ev.Andre Saleh, S.Th.

hasil edit andreDidalam injil Matius, Markus dan Lukas, Yesus sangat banyak memberikan perumpamaan yang mana selalu dengan tujuan intinya adalah berkaitan dengan apa yang dilihat dan dirasakan olehNYA agar dapat disampaikan kepada orang-orang yang berada dengaNYA ( murid-murid, ahli-ahli Tarurat, orang farisi, dan orang-orang yang mendengarNYA berkotbah dan mengajar).

Salah satu perumpamaan yang paling terkenal dan sering dikotbahkan adalah “ Perumpamaan tentang anak yang hilang: ” Menarik untuk dipelajari karena di dalam perumpamaan ini ada 3 tokoh utama yang amat terkenal ( Sang Bapa, Si Sulung dan Si Bungsu).

Didalam Tradisi Bangsa Israel, anak laki-laki merupakan pewaris utama dari harta kekayaan sang Bapa . Anak sulung mendapat 2 / 3 dan anak bunbgsu mendapat 1 / 3 ( Ulangan 21 : 17 ). Dengan demikian jelas yang sulunglah yang mendapat lebih banyak harta. Namun diudalam ceritera ini, si bungsulah yang menjadi tokoh utama sesuai dengan judul perumpamaan ini.

Si bungsu meminta kepada bapanya untuk memberikan apa yang menjadi bagiannya ( Ayat 12 ). Didalam hukum yahudi, seoorang ayah dapat membagikan hartanya melalui surat wasiat ketika ia masih hidup, namun pelaksanaannya harus dilakukan setelah ia meninggal. Namun apabila dibagikan pada waktu sang bapak masih hidup, maka konsekwensinya sang anak akan dikenakan denda. Namun didalam ceritera ini, sang bapak sungguh amat baik, dia memberikan kepada si Sulung dan si Bungsu bagian mereka masing-masing dan tanpa ada konsekwensi denda yang mereka harus terima. si bungsu telah mendapat apa yang menjadi bagiannya lalu ditukar dengan uang kemudian ia pergi dengan bebas ke negeri yang jauh, ia memboroskan hartanya dan hidup berfoya-foya ( ayat 13 ).

Alkitab tidak menuliskan dengan jelas dan panjang ceritera ini, namun indikasi dengan siapa ia memboroskan uangnya yakni dengan pelacur-pelacur ( ayat 30). Bisa dipastikan bahwa perasaan ayahnya sangat sedih karena anak laki-laki yang harusnya ada dirumah dan menemani orangtua sampai mereka meninggal menurut tradisi Yahudi, kini harus pergi jauh bahkan tanpa ada kabar berita. Ayahnya pasti selalu berdoa memohon kepada Allah agar menjaga dan melindungi anaknya dimanapun dia berada sambil menunggu di depan pintu rumahnya setiap hari kapan anak bungsunya pulang kerumah.

Akan tetapi yang terjadi adalah si bungsu pergi jauh dan sedang menikmati kehidupan bebas tanpa aturan bersama-sama dengan kenalan baru yang dijumpainya di negeri asing yang ia tinggal. Mungkin timbul pertanyaan dibenak kita, mengapa sang ayah dan si kakak tidak mencari adiknya yang pergi entah kemana ?, saya bisa memberikan jawabannya adalah mereka menghargai si bungsu karena dia telah cukup dewasa dan memiliki perasaan dan kehendak bebas untuk dia dapat lakukan apa yang dia inginkan.

Episode baru didalam kehidupan si bungsu tiba-tiba menjadi berubah dimana “ Uangnya habis dan timbulah bencana kelaparan di negeri dimana ia tinggal “ ( ayat 14). Ternyata uang tidak bisa menyenangkan dan menjamin kenyamanan selama manusia hidup di dunia ini. Situasi makmur secara materi dan alam yang subur kemudian berubah menjadi miskin dan kelaparan. Sekali lagi dapat dipastikan sang bapak masih terus memohon kepadsa Allah untuk menjagai dan melindungi si bungsu dan diapun selalu menunggu di pintu rumahnya kapan anak laki-laki bungsunya pulang. Kisah Yusup yang dipikiran Yakub telah mati menurut saudara-saudaranya mungkin merupakan contoh di dalam perjanjian lama yang menjelaskan tentang bagaimana sedihnya hati sang bapa kehilangan anak laki-lakinya.

Si bungsu kemudian melarat dan mau tidak mau harus memutar otak bagaimana ia harus bekerja di kantor atau perusahan sehingga bisa mendapatkan uang, makanan enak dan yang pastinya dia bisa hidup kembali sepoerti dahulu dalam keadaaan makmur juga berfoya-foya. Tetapi yang terjadi adalah berbeda, dia memang di terima bekerja namun yang menjadi bagiannya adalah menjadi kawanan babi di dalam kandang milik tuannya. Hal ini merupakan sebuah kenajisan oleh orang Yahudi ( Imamat 11 : 7; ulangan 14 : 8 ). Bahkan ketika ia lapar, ia ingin mengisi perutnya dengan ampas babi, namun rekan-rekan kerjanya tidak juga memberikan makanan babi tersebut. Perasaan dan hati nurani si bungsu menjadi berubah karena menyadari keadaan yang seharusnya tidak dialaminya, di dalam rumah bapanya berlimpah-limpah makanan bahkan seluruh fasilitas tersedia ( ayat 17 ) namun di negeri orang dia hidup dalam kedaan rendah dan najis bahkan lama kelamaan bisa mati kelaparan. Semua penyesalan, rasa bersalah mewnjadi campur aduk dihati dan pikirannya. Satu-satunya tidakan yang harus dilakukan adalah “ Bangkit dan pergi kepada bapanya “.

Fase baru kehidupan si bungsu berlanjut dengan tanpa malu dia berjalan pulang. Dari jauh ayahnya telah melihatnya bahkan mengenal dia yang mungkin berjalan dengan wajah yang butuh pertolongan dan wajah yang tertunduk malu juga dalam keadaan tertatih-tati h karena rasa lapar yang dialami anak bungsunya. Tanpa menunggu anaknya berjalan sampai kerumahnya, ia segera berlari dan mendapat anaknya kemudian memeluk dan menciumnya.

Ayahnya tidak memikirkan kejahatan yang pernah dilakukan si bungsu dan keadaan anaknya yang mungkin tubuhnya berbau kotoran dan makanan babi ( karena bekerja sebagai p[enjaga babi) namun ayahnya begitu bahagia sehingga semua dosa dan kekurangan anaknya ia terima dengan hati yang gembira dan penuh kasih sayang. Si bungsu kemudian memohon ampun kepada sorga dan bapanya karena telah berdosa, namun sebelum ia lanjut berbicara ayahnya langsung “ Mematahkan pikiran dan niat hatinya yang ingin menebus rasa bersalahnya dengan memanggil hamba-hambanya untuk lekas berlari mengambil Jubah, Cincin, dan Sepatu “. Jubah merupakan lambang seseorang dihormati dan dimuliakan, Cincin merupakan lambang ahli waris, kemudian sepatu merupakan lambang diangkat menjadi anak yang dahulu menjadi budak.

Tidak berakhir disitru, bapanya menyuruh hamba-hambanya untuk menyembelih lembuh tambun dan mengadakan pesta sebagai lambang ia diterima kembali didalam keluarga dan masyarakat.

Sang kakak yang baru pulang dari ladang kemuidian mendengar suara pesta keramaian dan ternya benar bahwa suara orang-orang yang sedang berpesta dirumahnya. Ternyata bapanya merayakan pesta untuk adiknya yang telah kembali. Dengan hati yang kesal dan marah ia tidak mau ke dalam rumah, kemudian ayahnya keluar menemuinya, perdebatanpun terjadi dengan ayahnya karena si bungsu yang harusnya tidak boleh diterima bahkan lebih baik ia mati karena telah berdosa terhadap bapa dan sorga tapi kenapa bapa menerimanya bahkan membuat pesta untuknya, bahkan ia berkata mengeluarkan unek-unek hatinya bahwa ia yang telah mengabdi bertahun-tahun kepada bapa dan tidak pernbah melakukan sebuah pelanggaranpun, tetapi tidak pernah menyembelih anak kambing untuknya ( dalam kebudayaan Yahudi anak kambing lebih rendah nilainya dari anak lembu Tam,bun). Sang bapak kemudian berusaha dengan penuh kesabaran dan hikmat menenangkan hati anak sulungnya dengan berkata kita patut bersukacita karena adiknya yang telah hilang sekarang telkah didapat kembali, ia yang telah mati sekarang menjadi hidup.

RENUNGAN :

Didalam kisah ini sang kakak dan si bungsu memiliki pemikiran yang salah tentang bapa mereka. Si kakak berkata kepada bapanya bahwa ia tidak adil, kemudian si bungsu merasa berdosa terhadap surga dan bapanya. Namun ternyata pemikiran mereka dua-duanya salah. Sang bapak sungguh amat baik, adil, dan penuh kasih sayang.

Anak Sulung disini menggambarkan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang merasa diri paling benar dan pemungut cukai dan orang berdosa itu tidak layak ada dan makan bersama Yesus. Ada banyak orang percaya yang merasa terklalu suci sehingga menganggap orang yang berdosa tidak layak untuk diampuni dosanya dan diselamatkan ( Kisah Yunus dan Niniwe). Padahal harusnya kita yang percaya bersukacita karena ada saudara, teman, rekan kerja, bahkan orang diluar kristen memperoleh belaskasihan dan mengalami kehidupan baru di dalam Yesus.

Anak Bungsu menggambarkan orang berdosa yang menganggap dirinya terlalu hina dimata dan hati Allah sehingga tidak layak memperoleh keselamatan dan berkat rohani jasmani. Akan tetapi dimata dan dihati Allah setiap orang yang mau membuka hatinya dan kembali kepada Allah, tidak akan pernah orang itu dihina dan dibuang oleh Allah melainkan KasihNYA yang amat besar mampu memeluk, memulihkan, menyembuhkan dan menyelamatkan setiap orang yang mau percaya dan meninggalkan dosa-dosany dan kembali kepadaNYA ( Yohanes 3 : 16).

Sang Bapak menggambarkan pribadi yang tulus, penuh rahmat dan penuh kasih sayang kepada anak-anaknya yang mengalami hidup baru bahkan yang terhilang. Sesungguhnya tidak ada yang luput didalam tangan, hati, pikiran dan rencana Allah yang mulia, semuanya digenggam dalam kehendakNYA. Mungkin kita yang sedang membaca kisah ini, kita berkatra bahwa kita tidak kurangajar dan jahat seperti anak bungsu ini dan tidak memiliki hati yang benci kepada sesama kita seperti sang kakak. Kita masih setia melayani Tuhan dengan talenta kita, taat memberi perpuluhan, dan banyak lainnya. Akan tetapi waktu-waktu kusus kita dengan Allah telah kita lupakan sehingga kita lupa untuk menyediakan waktu untuk “ Membaca dan merenungkan firmanNYA, berdoa memuji dan menyembahNYA dan menjadi saksi injil bagi sesama “ Dengan tujuan untuk kita selalu dekat dan mengenal pribadiNYA yang sungguh amat baik.

Perumpamaan ini memberikan pelajaran mulia dan kekuatan kepada setiap kita untuk tetap ada didalam hadirat Allah dan Anugerah Allah. Diluar Allah hidup kita akan hancur dan jika khiudupan keagamaan kita sama seperti ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi maka kitapun akan sama seperti sang kakak yang tidak mengenal ini hati sang bapa yang merindukan anak-anaknya selalu tinggal dekat bersama-sama dengan dia dan mengenal pribadinya yang berlimpah kebaikan.

Milikilah hati dan pikiran yang baru tentang pribadi Allah dan hati yang merngasihi sesama kita seperti Allah mengasihi seluruh umat manusia. Dengan demiukian kisah ini mempunyai pemahaman yang baru bagi kita bahwa apapun yang kita alami, kegagalan semua itu akan diubah Allah menjadi kemenangan karena Dia adalah BAPA YANG SANGAT BAIK. Baik anak-anakNYA yang ingin kembali kepadaNYA.

Yoh 6 : 37 “ Semua yang diberikan Bapa KepadaKU akan datang KepadaKU, dan barang siapa datang kepadaKU, ia tidak akan dibuang”.

Yes 43 : 25 “ Aku, akulah Dia yang menghapus Dosa pemberontakanmu oleh karena aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ngingat dosaku “.

Mikha 7 : 19 “ Biarlah ia kembali menyangi kita, menghapus kembali kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita kedalam tubir-tubir laut “.

Mazmur 103 : 8-9 “ TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakuykaNYA kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNYA kepada kita setimpal dengan kesalahan kita “.

AMIN.TUHAN YESUS MEMBERKATI.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: