SIRAMAN ROHANI : STOP IRI HATI AYO MENGASIHI (1 sam 18:6-9; 24:1-23; 26:1-25)

Oleh: Ev. Andre Saleh, S.Th

11218463_119675731703111_2656001429742096550_n

Iri hati atau dengki adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan, baik prestasi, kekuasaan atau lainnya, menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya. Bertrand Russell seorang filsuf dan peraih hadiah nobel sastra, mengatakan bahwa iri hati adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan. Orang yang iri hati tidak hanya menyebabkan ketidakbahagiaan bagi dirinya sendiri, orang tersebut bahkan mengharapkan kemalangan orang lain. Dengan demikian iri hati adalah sesuatu yang jahat.

Raja Saul adalah raja pertama bangsa Israel yang dipilih oleh Allah untuk memimpin bangsa Israel menggantikan pemerintahan Theokrasi (dipimpin langsung oleh Allah). Pada zaman Perjanjian Lama, seorang yang dipilih menjadi raja adalah seorang yang memiliki pandai berperang, memiliki keberanian dan yang pasti diurapi oleh Allah, saul memiliki kualifikasi ini. Pada zaman Saul memerintah, musuh yang berhadapan dengan Israel adalah bangsa Filistin. Kisah yang paling terkenal adalah Daud mengalahkan pahlawan Filistin yakni Goliath. Setelah Saul, Daud dan bangsa Israel pulang berperang mereka disambut oleh penduduk di segala kota Israel dan khususnya para wanita untuk menyongsong Saul dan pasukannya sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing dan bernyanyi berbalas-balasan: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa”. Dengan nyanyian ini tanpa disadari menggangu hati Saul. Ayat 8-9: Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun jatuh kepadanya.” Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

Apa penyebab Saul menjadi gusar dan iri hati terhadap Daud? Pertama, Saul hidup oleh perkataan manusia bukan perkataan Allah (ay 8a). Jika kita melihat dan menghitung jumlah musuh-musuh yang ditaklukakan oleh Saul, maka ada lima musuh Saul pada zaman itu yakni: Moab, bani Amon, Edom, raja-raja negeri Zoba dan orang filistin. Namun di mata bangsa Israel pada waktu itu, mengalahkan Goliath adalah suatu prestasi tertinggi yang akan diberikan kepada siapa yang membunuhnya sebab Goliath adalah pahlawan bangsa Filistin. Daudlah yang berhasil membunuhnya. Kedua, Saul berpikir jabatan raja adalah pilihan manusia bukan pilihan Allah (ay 8c). Pada waktu Samuel memimpin di Israel, orang Israel melihat bangsa-bangsa disekelilingnya memiliki raja sehingga mereka meminta kepada Samuel untuk meminta kepada Allah untuk memberikan mereka seorang raja sehingga memimpin mereka dalam berperang dan menghakimi mereka ( 1 Sam 8:19). Ketiga, Saul setiap waktu menyimpan akar pahit di dalam hatinya kepada Daud (ay 9). Saul tidak berhenti meresponi perkataan manusia dan membuang jauh-jauh pemikirannya yang buruk terhadap Daud, namun ia makin menyimpan dosa iri hati di dalam hatinya. Hal ini sama dengan Kain yang yang membunuh adiknya Habel karena iri hati terhadap persembahan korban adiknya yang lebih diindahkan Allah daripada persembahannya (Kej 4).

Apa yang dilakukan oleh Saul sangatlah berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Daud. Daud yang awalnya dikasihi, kemudian menjadi musuh yang harus Saul binasakan. Namun tindakan kasihlah yang dilakukan dan ditunjukkan oleh Daud kepada Saul. Kesempatan pertama untuk Daud membunuh Saul adalah di padang gurun En-Gedi pada waktu ia membuang hajat dan Daud memotong punca jubahnya. Namun Daud berkata kepada orang-orang yang bersama dengan dia: Janganlah menjamah orang yang diurapi oleh TUHAN (1 Sam 24). Saul kemudian bersumpah untuk tidak membunuh Daud namun ia tetap melanggar sumpahnya. Daud pun mendapat kesempatan kedua kalinya untuk membunuh Saul pada waktu Saul dengan pasukannya datang mencari Daud di padang gurun Zif. TUHAN membuat mereka tidur nyenyak sehingga tidak menyadari Daud dan Abisai masuk ke perkemahannya dan mengambil tombak dan kendi. Abisai ingin menancapkan tombak kepada Saul akan tetapi Daud menahannya dan berkata kepadanya: siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi oleh TUHAN yang akan bebas dari hukuman (1 Sam 26).

Sungguh Daud memiliki hati yang mengasihi Saul musuhnya yang harus ia binasakan, tetapi Daud sadar bahwa Saul adalah raja yang telah diurapi oleh TUHAN, tindakan Saul yang jahat harus dibalas dengan kebaikan, terlebih yang utama adalah Daud memiliki hati yang sangat mengasihi TUHAN sehingga Daudpun berkata: niscaya TUHAN akan membunuh dia; entah sampai ajalnya tiba atau di medan peperangan ia (Saul) akan mati. Daud sadar pembalasan adalah hak TUHAN. Akhirnya waktu TUHAN untuk membalas kejahatan Saul pun tiba pada waktu Saul dan pasukannya berperang melawan bangsa Filistin. Orang Israel terpukul kalah sehingga mereka mengalami kekalahan besar dan Saul, Yonathan anaknyapun mati di pegunungan Gilboa. Berita kematianpun diberitahukan kepada Daud. Pada waktu Daud mendengar kabar tersebut apakah Daud senang karena Saul dan Yonathan anaknya meninggal di medan pertempuran? Daud sangat hancur hati, meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam bersama dengan orang-orangnya karena orang yang diurapi oleh TUHAN telah mati di medan pertempuran dan anaknya Yonathan yang sangat bermurah hati kepada Daud pun meninggal. Sikap hati yang mengasihi bukan saja berhenti setelah Saul dan Yonathan meninggal, namun Daud tetap mencari dan menunjukkan kepada keturunan Saul yang masih tersisa yakni anak Yonathan Mefiboset (2 Sam 9). Seluruh kepunyaan Saul yang hilang di kembalikan kepada Mefiboset, bahkan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud seperti anak raja.

PERENUNGAN

Setelah kita mempelajari perjalanan kehidupan antara Saul dan Daud, kita menemukan sebuah pelajaran berharga bahwa alangkah lebih baiknya mengasihi daripada iri hati. Iri hati hanya membawa kita kepada keadaan yang hilang damai sejahtera, akar pahit, hidup di dalam dosa dan akhirnya membawa kita berhadapan dengan maut karena kita merugikan sesama kita karena itu adalah dosa dihadapan Allah. Jangan hidup menurut perkataan manusia melainkan hiduplah menurut perkataan Tuhan karena apa yang Allah katakan tentang kita lebih penting daripada apa yang manusia katakan kepada kita.
Hargailah berkat Allah yang telah disediakan-Nya kepada masing-masing orang, jangan menganggap sesama kita lebih dari kita dan akhirnya membuat kita tidak bersyukur dengan berkat yang Allah telah berikan. Sebab segala berkat datangnya dari Allah sendiri bukan manusia. Daripada iri hati, lebih baik mengasihi. Orang yang iri hati hidupnya terkutuk, namun orang yang mengasihi hidupnya diberkati. Amin

Roma 12:9-21 (TB) Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!
Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: