SIRAMAN ROHANI :WARISAN KEKAL ADALAH WARISAN ROHANI (Mazmur 78:1-7)

Oleh: Ev. Andre Saleh, S.Th

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata warisan berarti “sesuatu yang diwariskan, seperti nama baik, harta, harta pusaka. Sedangkan sang pewaris adalah yang akan menerima warisan tersebut, dan orang yang mewarisinya adalah orang yang sudah tentu memiliki hubungan kekerabatan yang dekat seperti keluarga dekat ataupun anak-anak dan secara hukum maupun adat memiliki nilai yang sah.

Pernahkah kita berpikir jika usia kita ditambahkan 100 tahun lagi, apa yang akan terjadi dengan seluruh aspek kehidupan kita? Bagaimana dengan nasib keluarga dan anak cucu kita, bagaimana dengan nasib bisnis kita, bagimana dengan nasib harta kekayaan kita, ataupun juga nasib pelayanan gerejawi kita? Semua kita mungkin disibukkan dan berfokus kepada hal-hal yang membuat kita harus memiliki kenyamanan dan kesejahteraan bagi kita jika kita hidup 100 tahun lagi.

Namun sebuah pertanyaan yang sungguh mengusik hati nurani dan pikiran kita adalah WARISAN APA yang akan kita wariskan kepada anak dan cucu kita atau generasi dan generasi selanjutnya?

Di dalam Alkitab, warisan berasal dari bahasa Ibrani yakni NAKHAL atau NAKHALAH. Kata ini terdapat terutama dalam Bilangan dan Ulangan mengacu pada tanah perjanjian yang ditetapkan bagi tiap keluarga Israel. Abraham adalah tokoh yang Alkitab catat sangat membutuhkan Ishak untuk menjadi sang pewaris segala berkat kekayaan yang Abraham miliki (Kej 15:2-4). Milik pusaka atau warisan juga dimiliki oleh keluarga bukan perseorangan karena itu adalah hukum warisan yang mutlak.

Di dalam Perjanjian Baru, kata warisan adalah terjemahan dari kata Yunani “kleronomos” yang berasal dari kata “kleros” artinya bagian yaitu menerima sesuatu menjadi hak, berhak menerima (Gal 3:29; Ibr 1:2), mendapat bagian (1 Kor 6:9; Ibr 6:12), juga memperoleh (Ibr 1:14;1 Pet 3:9).

Konsep perjanjian Baru sepenuhnya menitik beratkan kepada hubungan antara Allah dan umat-Nya yang ia terima sebagai anak-anak-Nya yang mewarisi kerajaan-Nya. Istilah “anak-anak Allah” dalam Alkitab TIDAK PERNAH BERMAKNA BIOLOGIS melainkan FIGURATIF untuk menggambarkan kedekatan Allah dengan umat-Nya yang diterimanya di dalan iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Ada beberapa contoh orang-orang yang meninggalkan warisan kepada keturunan atau generasi selanjutnya. Pertama, Musa berhasil mencetak Yosua menjadi pemimpin Israel menggantikan dirinya. Kedua, Nabi Elia berhasil menemukan Elisa dan menjadikan Elisa bujangnya berhak menerima urapan dua kali lipat lebih daripada Elia. Ketiga, Ayub menjadi Ayah yang penuh teladan kepada anak-anaknya dan meninggalkan warisan rohani juga warisan harta kekayaan. Keempat, Paulus adalah rasul yang hebat dan ia berhasil mewariskan karunia rohani yang ada padanya kepada Timotius anak rohaninya. Kelima, Yesus Kristus adalah guru dan juga tabib yang ajaib, berhasil mewariskan warisan rohani yang luar biasa berdampak kepada murid-murid-Nya, sehingga menjadikan mereka para history maker.

Ada begitu banyak orang hari-hari ini, baik orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus maupun yang telah bertitel Kristen, namun lebih berfokus kepada warisan dunia daripada warisan rohani. Seorang ayah rela mengorbankan keluarganya hanya demi mementingkan pekerjaan dan karirnya.

Seorang pebisnis yang rela melakukan mafia kepada rekannya demi kekayaan yang akan diperolehnya. Bahkan seorang pendeta yang sibuk melayani pekerjaan Tuhan namun lupa memberikan waktu yang cukup kepada isteri dan anak-anaknya sehingga di dalam pelayanan dia menjadi orang yang berhasil namun di dalam keluarga dia menjadi bapak yang gagal.

Padahal jika kita sungguh-sungguh mempelajari dan merenungkan firman Allah, maka warisan yang paling utama dan terpenting yang diwariskan oleh generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya adalah WARISAN ROHANI.

Mazmur 78 ini ditulis oleh Asaf. Asaf adalah keturunan Gersom, putra Lewi. Asaf ditunjuk oleh kepala orang Lewi sebagai penyanyi utama, dengan membawa ceracap ketika tabut perjanjian dibawa ke Yerusalem (1 Taw 15:17-19). Daud juga mengangkat Asaf menjadi kepala paduan suara dalam kebaktian. (1 Taw 16:4,5). Warisan rohani apa saja yang disampaikan oleh Asaf kepada anak cucu bangsa Israel?

1. Puji-pujian kepada Tuhan (ay.4b). Dari masa Bait Allah telah didirikan oleh raja Salomo sampai kepada orang Yahudi kembali dari pembuangan, bani Asaf tetap menjadi keluarga pemusik yang senior di Israel (1 Taw 25:1; 2 Taw 35:15; Ezra 3:10; Neh 11:22). Sebuah keluarga yang dari generasi ke generasi tetap setia mencintai Tuhan dan melayani pekerjaan Tuhan di Israel.

2. Kekuatan Tuhan (ay.4b). Salah satu nama diantara nama-nama kekuatan Allah adalah El Gibbor artinya Allah yang Perkasa, Yang Kuat, Gunung Batu, Kota Benteng, dan Tuhan Kekuatanku. Asaf memperingatkan bangsa9Israel supaya memperkenalkan Kekuatan Tuhan yang besar dan dahsyat kepada anak cucu mereka. Kekuatan-Nya selalu ditunjukkan-Nya dengan setia kepada Israel. Bangsa Israel bukanlah tipe warrior atau berperang, namun setiap kali mereka berperang Allah selalu memberikan kemenangan kepada Israel. Dengan kekuatan apakah yang membuat mereka menang? Hanya KEKUATAN TUHAN.

3. Perbuatan-Nya (ay.4c). Luar biasa perbuatan Tuhan dari zaman ke zaman dan keturunan demi keturunan. Musa dipakai oleh Allah untuk melakukan mujizat demi mujizat: laut Teberau menjadi kering, roti manna dan daging menjadi makanan umat Israel selama 40 tahun di padang gurun, gunung batu dibelah menjadi mata air, tembok Yerikho diruntuhkan, orang-orang Kanaan di tumpas habis, bahkan tanah Perjanjian menjadi milik pusaka Israel. Perbuatan siapakah itu? Perbuatan Allah Abraham, Ishak dan Israel.

PERENUNGAN
Rasul Paulus pernah berkata dunia adalah tempat manusia menumpang, hal ini berarti dunia bukan tempat kekal kita manusia. Surgalah yang menjad kediaman abadi kita. Jika hari ini banyak orang tua boleh berani berkata jujur, maka yang menjadi kerinduan setiap mereka adalah melihat anak cucunya hidup BENAR, TAKUT AKAN TUHAN, MELAYANI TUHAN, HIDUP BERIMAN, DAN DIBERKATI DENGAN BERKAT SORGAWI BAHKAN MENJADI BERKAT BAGI DUNIA. Harta dunia dan kekayaan adalah semu jika diluar Kristus, Kepintaran dunia bukanlah segalanya akan tetapi hikmat Allah jauh melebihi pengetahuan manusia. Rasul Paulus pernah memuji dan menasehati anak rohaninya Timotius, “Sebab aku teringat akan iman-mu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”. 2 Tim 1:5. Warisan rohanilah yang begitu penting daripada warisan dunia.

Pertama, Jadilah orang tua yang menjadi penyembah Allah bukan sekedar hanya bisa bernyanyi, karena menjadi penyembah dan hobby bernyanyi sangatlah berbeda. Layanilah Tuhan dengan karunia dan mintalah pengurapan dari Allah seperti para bani Asaf yang dari generasi ke generasi terus melayani Tuhan.

Kedua, andalkanlah kekuatan Tuhan bukan kekuatan diri sendiri. Jika dalam permasalahan kehidupan, belajarlah mengandalkan Tuhan sebab kekuatan Tuhan sangat besar dan tidak terbatas. Tunjukkanlah sejak dini kepada anak cucu kita bahwa hanya kekuatan Tuhanlah yang mampu menolong kita di dalam segala musim kehidupan kita.

Ketiga, ceritakanlah perbuatan Tuhan yang ajaib kepada anak cucu kita. Pengalaman-pengalaman iman yang Allah kerjakan dalam hidup kita, ceritakanlah kepada mereka sehingga kelak anak cucu kita melihat perbuatan Tuhan yang hebat bagi hidup mereka juga. Yesus Kristus telah ditetapkan sebagai ahli waris segala sesuatu (Ibr 1:2).

Dahulu orang Kristen mewarisi dari Adam kehidupan yang sia-sia yang dikuasai dosa (1 Pet 1:18), akan tetapi di dalam Kristus kita sekarang mewarisi janji-janji Allah. Yang pertama diberikan kepada bapak-bapak leluhur Israel dan bangsa Israel yang kedua kepada orang percaya yang telah diterima sebagai anak maka kita juga disebut sebagai ahli waris (Roma 8:17; Kis 3:25; Ef 1:6).

WARISKANLAH WARISAN ROHANI KARENA NILAINYA SELALU BERSIFAT KEKAL. Amin. Tuhan Yesus Memberkati.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: