Sosialisasi Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Se’i

Kupang. 13/06/2015.Se'i,dimakan bersama Sambal Luat

Tim dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, NTB, dan NTT, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan Sosialisasi Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Se’i di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada hari Sabtu, 13 Juni 2015 bertempat di Rumah Makan Se’i Bali Petra Oebufu, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pada kesempatan ini hadir budayawan Bapak Martinus, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda, untuk memberikan masukan atau tanggapan dari pemutaran film dokumenter se’i .

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam. Keanekaragaman tersebut merupakan cermin sejarah, kemajuan, dan perkembangan peradaban bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar. Warisan budaya (cultural heritage) baik yang bersifat benda (tangible) maupun takbenda (intangible) memiliki arti yang sangat penting bagi suatu bangsa karena mencerminkan jati diri, merupakan sumber kekayaan spiritual, sosial, budaya, historis, bahkan ekonomis. Begitu juga dengan masyarakat Timor, khususnya Kupang mempunyai tradisi pengasapan daging yang dikenal dengan se’i.

Pengasapan adalah salah satu teknologi yang telah dilakukan oleh nenek moyang masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mempertahankan kualitas daging sapi. Se’i adalah salah satu hasil olahan daging dengan cara pengasapan, yang merupakan hasil olahan khas dari salah satu kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Timur, yaitu kabupaten Rote Ndao untuk se’i sapi.

Se’i bahasa daerah Rote, artinya daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang, lalu diasapi dengan bara api sampai matang. Se’i adalah makanan khas suku Rote yang kemudian merSe'i, saat dipanggang Asapambah selera masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemudian dikenal juga se’i babi pertama di Teunbaun kurang lebih 40 km atau 45 menit dari kota Kupang (terkenal dengan Se’i Baun) yang dikelola oleh Om Ba’i (Gasper Tiran) awalnya berjualan daging babi keliling pada tahun 1980-an. Pada tahun 1997 merintis usaha se’i babi yang mulai dikenal luas pada tahun 2000.

Produk daging se’i memiliki keunikan dan spesifikasi, baik aroma, warnanya yang merah, maupun tekstur yang empuk dan rasanya yang lezat. Pengolahan se’i juga bertujuan untuk memperpanjang daya tahan simpan, serta meningkatkan nilai gizi dan nilai ekonomi daging sapi maupun daging babi. Daging se’i begitu populer di kalangan masyarakat Kupang dan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya dan bahkan sampai para tamu dari luar negeri. Saat ini banyak dijumpai pula di Kupang rumah makan yang menjual se’i babi, yaitu Bambu Kuning, Petra, Aroma, dan Pondok Tepi Sawah. Untuk se’i sapi bisa dibeli di Ibu Soekiran.

Umumnya bahan baku se’i biasanya dari daging babi atau sapi bahkan rusa. Namun, mayoritas masyarakat NTT lebih suka mengonsumsi se’i babi, maka se’i babi menjadi pilihan utama. Mereka menilai lemak daging sapi lebih berbahaya bagi kesehatan dibanding lemak babi. Se’i daging rusa pun telah ditinggalkan karena memang binatang rusa sudah jarang dan termasuk salah satu binatang yang dilindungi oleh pemerintah.

Diharapkan dengan kegiatan ini akan memberikan manfaat bagi masyarakat Kupang khususnya dan Nusa Tenggara Timur umumnya, untuk melakukan pelestarian (perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan) warisan budaya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. ( NTT- EXPOS.001)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: