TARI LIKURAI KAYA NILAI, HARUS DILESTARIKAN !

NTT-EXPOS.COM.Kupang 15 Juli 2015

C360_2015-07-11-11-03-12-264“ Sejak Zaman Kerajaan Liurai, tarian Likurai dilakukan untuk menyambut para pahlawan perang yang pulang membawa kemenangan. Dan sekarang ini, tarian Likurai digunakan untuk berbagai acara adat, acara prosesi gereja, acara penyambutan para petinggi daerah maupun nasional. Saat kedatangan Presiden RI, Joko Widodo, tarian ini juga digunakan untuk mengiringi perjalanan Presiden berkeliling kota Betun yang kini menjadi ibukota Kabupaten Malaka. Pukulan-pukulan gendang dan gerakan-gerakan kaki baupun badan, punya arti masing-masing. Oleh karena itu, Tarian Lukurai yang kaya nilai ini, patut dicatat dan dilestarikan sebagai milik kebudayaan Nasional”. Hal ini diungkapkan oleh, Paulus Seran yang adalah Kepala Suku Rumah Adat Foho Manas –Biuduk Fehan desa Bakiruk, Kabupaten Malaka, ketika ditemui Wartawan Media ini, di Biuduk Fehan, beberapa waktu yang lalu.

Katanya, pukulan-pukulan dan gerakan-gerakan yang terkandung didalam atraksi tarian Likurai, menceriterakan sesuatu yang sedang terjadi dan sesuatu yang harus dilakukan. Hal ini dikenal secara turun- temurun semenjak dulu hingga sekarang ini.

Dengan perkembangan jaman yang semakin modern ini, pemerintah harus mencatat dan melestarikan dan mendokumentasikan Tarian ini, sehingga selalu menjadi contoh bagi kaum muda di masa sekarang dan akan datang. Tanpa dokumentasi yang baik, lama-kelamaan, tarian yang kaya nilai tradisi ini, perlahan-lahan akan terlupakan oleh generasi muda kita.

Menurutnya, bunyi pukulan gendang likurai juga digunakan untuk mencari warga yang hilang ditengahC360_2015-07-11-09-27-40-219 hutan. Jika ada yang hilang, maka, orang yang mencarinya harus membunyikan gendang tersebut, dan saat mendengar bunyi itu, orang yang dicari akan muncul dari hutan. Bunyi gendang likurai untuk mencari orang hilang, memiliki pukulan khusus dan dikenal sacral bagi warga.

Kepada Pemerintah, Paulus berharap, kiranya melakukan pengkajian mendalam tentang pulukan-pukulan yang terkandung dalamnya, sehingga arti-arti pukulan tersebut dikenal oleh generasi penerus Malaka. Amat disayangkan, apabila, arti dan makna yang terkandung dalam pukulan-pukulan likurai, terlupakan oleh kaum muda kita karena perkembangan zaman ini.

Kata Paulus, beberapa pukulan gendang likurai yang sempat diketahuinya adalah, pukulan saat menerima para pahlawan yang pulang perang membawa kepala musuh, bunyi saat menerima Raja, pukulan saat menerimka tamu pejabat, pukulan saat mengiringi upacara misa kudus, pukulan saat mengeluarkan dan memasukan barang-barang keramat di rumah adat serta pukulan saat mencari orang yang hilang didalam hutan. Arti detai tentang beberapa pukulan lainnya masih diketahui jelas oleh tua-tua adat terdahulu. Jika semua jenis pukulan itu diteliti, maka akan menambah kekayaan niulai buidaya yang menarik. ( NTT-EXPOS.003).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: