TOKOH TUA ADAT, ANTON KOLO : PENGAMBILAN TIANG NIMONE, SESUAI PETUNJUK PEDANG KERAMAT

Ntt-expos.com. Banain-TTU, Liputan Khusus Amos Ukat.

“ Untuk memperoleh tiang yang bercabang tiga yang disebut Nimone, tidak bisa diambil atau ditunjuk oleh para Meo, melainkan lewat petunjuk pedang Keramat Suku yang dipegang oleh ketua rumah suku. Jika bukan lewat petunjuk pedang keramat itu, kayu pohon sebagus apapun tidak boleh dipakai “, inilah pernyataan Tokoh Tua Adat Kolo Kefi, Anton Kolo, ketika diwawancarai, didepan rumah adat Kolo-Kefi, pada malam Kamis,13 Juli 2016.

Dia menjelaskan, cara mengambil pohon untuk tiang bercabang tiga atau Nimone adalah, para meon melakukan ritual khusus dalam rumah adat, kemudian seorang Kepala Rumah adat mengambil pedang keramat milik suku menuju ke dalam hutan didampingi lima orang Meo lainnya. Sesampai di dalam hutan, kepala rumah adat menunjukkan pedang keramat itu ke pepohonan yang ada, jika pedang itu menunjuk kesalahsatu pohon, maka pedang itu dilemparkan ke pohon tersebut, jika tertancap maka, para MEO melakukan upacara khusus, kemudian pohon tersebut boleh dipotong lalu tiang bercabang tiga dipakai untuk NIMONE.

Anton, yang juga adalah seorang Guru, menjelaskan lagi, setelah dipotong dan dibersihkan, tiang bercabang tiga itu, dibawa kedalam perkampungan, sesampai di pintu masuk kampong, semua warga suku menjemput tiang tersebut dan dibawa ke halaman rumah adat untuk ditanam. Penanaman Tiang NIMONE, dilakukan lewat ritual adat dan pengorbanan hewan sesuai aturan adat.

Dia melanjutkan, hewan berupa ayam, kambing, babi atau sapi, jhika dibunuh untuk kebutuhan ritual adat atau upacara adat lainnya, maka dilakukan dibawah tiang NIMONE. Cara yang dilakukan yaitu, kepala hewan diletakkan di atas batu adat yang berbentuk ceper, lalu hewan tersebut disembelih agar darahnya menetes ke atas batu adat itu.

Kata Anton, Setelah hewan itu tidak bernyawa lagi maka batu tersebut titaruh kembali di tengah-tengah ranting bercabang tiga pada tiang NIMONE. Ini memberikan arti bahwa, Nyawa hewan korban tersebut diserahkan kepada Tuhan, Setelah itu , daging hewan tersebut dimakan secara bersama-sama oleh warga suku Kolo Kefi.

Tradisi ini sudah dilakukan dari zaman dahulu hingga sekarang ini, ucap Anton, mengakhiri. ( Amos Ukat). NTTEXPOS.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: