WORKSHOP FILM DOKUMENTER DI KUPANG NTT: “ PEMATERI BERTARAF NASIONAL DAN PROFESIONAL

NTT-EXPOS.COM.Kupang, 15/07/2015.

IGD.PUTU WURANEGARAUntuk meningkatkan usaha ekonomi kreatif dan meningkatkatkan ekonomi masyarakat, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur, melakukan kegiatan Workshop Pembuatan Film Dokumenter, menghadirkan 40 peserta yang berasal dari Kelompok Pemuda Kreatif Seni Perfilman NTT dan Instansi Pemerintah Terkait, bertempat di AULA Hotel Romyta, Kota Kupang, Selasa,07 Juli 2015.

Workshop ini, menghadirkan 2 Pemateri Tingkat Nasional, Yakni, Gede Putu Wiranegara ( Dosen UI ) dan Hadi Artomo ( Dosen IKJ ) Jakarta. Kedua Pemateri yang sudah cukup terkenal di Tingkat Nasional ini, memaparkan materi-materi pamungkas tentang bagaimana membuat Film Dokumenter yang berstandar Nasional dan layak sesuai dengan aturan yang benar. Serta bagaimana menggunakan Kamera dalam mengungkapkan bahasa-bahasa gambar saat dari produksi Film Dokumenter sesua standar Nasional, juga cara editing dengan Sotware yang laayak.

40 Orang peserta Workshop yang hadir, berterimakasih banyak kepada, Dinas Parekraf Provinsi, karena sudah memberikan Apresiasi yang tinggi kepada para Seniman dan Insan Perfilman di Nusa Tenggara Timur.

Dalam acara Pembukaan acara Workshop ini, Atas Nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur,Gubernur yang diwakilki oleh Kepala Dinas Parekraf Provinsi NTT,Dr.Jelamu Ardu Marinus,M.Si. Mengharapkan, dengan adanya kegiatan ini, peserta akan mendapat pengetahuan tentang teknik perfilman, mulai dari proses pembuatan sampai tingkat editing, sehingga peserta mampu memproduksi film yang baik dan benar untuk mengangkat dan mengedapankan kondisi daerah dan kearifan budaya lokal Nusa tenggara Timur, menopang usaha ekonomi kreatif masyarakat dibidang Pariwisata.Kegiatan Workshop ini berlangsung dua hari yakni, dari tanggal 07 Juli sampai 08 Juli 2015 yang baru lalu.

Pemateri pertama, IGD Putu Wiranegara, memberikan banyak penjelasan terkait bagaimana caranya membuat suatu film documenter yang berkualitas. Putu Wiranegara mengatakan, Film Dokumenter adalah Film non fiksi yang merepresentasikan realitas: suatu peristiwa tentang manusia, alam, maupun benda-benda, baik yang aktual maupun masa lampau dengan melibatkan penafsiran, penilaian dan opini serta argumen sutradara kedalam film tersebut.

Katanya, Ide film Dokumenter bukan seperti wahyu yang datang begitu saja, tapi merupakan akumulasi dari serangkaian pengamatan dan pengalaman yang mengendap dalam ingatan lalu muncul kembali sebagai sebuah ide. Secara tidak sadar, proses penemuan ide adalah bagian dari proses riset yang sudah kita lakukan ketika kita mengalami ataupun mengamati sebuah fenomena.Ide bisa juga diperoleh dari sebuah buku, artikel koran atau majalah yang kita baca.

Dia menjelaskan lagi, kita harus mempertimbgangkan Ide yang dipakai,yaitu, Mengapa memilih ide ini?.Untuk apa tujuannya?.Apakah penonton perduli? . Apakah ide ini unik?.Bagaimana membuatnya?.
Katanya, yang harus benar-benar dilakukan adalah, riset film documenter tersebut, yaitu, kita harus melakukan rangkaian kegiatan pengamatan sistematis yang dilakukan untuk memahami sebuah fenomena, baik fenomena alam maupun fenomena sosial-budaya. Dengan memperhatikan pontensi dapat di presentasikan secara Audio-Visual.

Kata Putu,mengakhiri, bahwa, Film Dokumenter adalah representasi atas realita yang bersifat subyektif, karena isinya dipengaruhi oleh argumen sutradaranya berdasarkan hasil risetnya. Argumen dalam dokumenter dipengaruhi oleh cara pandang sutradara terhadap fenomena yang ditelitinya. Namun demikian argumen yang disampaikan hendaklah berdasarkan data dan fakta serta metode yang dapat dipertanggung-jawabkan. Integritas dan kejujuran serta wawasan artistik seorang dokumentaris sangat menentukan nilai dan kualitas karyanya.

Selanjutnya, Pemateri kedua, Oleh Hadi Artomo, mengatakan, ceritera film documenter akan menjadiHADI ARTOMO.SAAT BERIKAN MATERI menarik ditonton apabila kita mampu melakukan pengambilan gambar sesuai aturan perekaman audio – visual yang memadai. Tanpa demikian, maka, apapun bentuk ceritera yang menarik sekalipun akan jelek ditonton. Oleh karena itu, seorang cameramen, harus pandai menggunakan kamera soting. Mampu mengatur cahaya dan gambar yang standard dan benar. Alat perekaman audio juga harus bagus sehingga tidak kehilangan moment saat pengambilan gambar.

Kata Hadi, soal editing pun sangat berperan menjadikan suatu film menjadi menarik. Standar Aplikasi editing harus baik dan sesuai aturan. Dan yang paling utama adalah computer yang diapakai harus benar-benar konek dengan aplikasi editing yang dipakai.

Pada pemateri yang ketiga, Prof.Dr.Feliks Sanga, menjelaskan, kekayaan budaya dan seni tradisi yang ada di NTT, sangat berpotensi untuk dikelolah secara benar dan baik berupa film, agar menjadi media edukasi dan promosi wisata yang ada di NTT.

PROF,DR,FELIKS SANGGA.MEMBERIKAN MATERIKatanya, pengemasan suatu tradisi seni budaya, menjadi suatu film, harusnya jangan merobah apa yang sudah menjadi tradisi budaya kita. Untuk menjadikan seni tradisi untuk kepentingan Pariwisata, hendaklah pelaku Film harus berhati-hati dan bijak sehingga, selain bisa mengakomodir panorama alam dan seni tarian maupun ceritera rakyat untuk menarik wisatawan , pelaku perfilman juga harus menjaga agar seni tradisi asli budaya kita tidak terkikis dan menjadi hilang makna sebenarnya.( NTT-EXPOS.003).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: