ZAMAN BOLEH BERLALU, MUSIM SILIH BERGANTI “ KAMI TETAP HIDUP DALAM TRADISI BUDAYA PENINGGALAN LELUHUR KAMI “

Nttexpos.com. Liputan Khusus Kampung Tradisional Bena. Bajawa,Oktober 2016.

goto-berita-bena-no-001“ Kampung – kampung lain memiliki kampung lama, tetapi kampung kami tidak ada kampung lama. Dari dulu sampai sekarang, kami hidup dikampung ini. Batu-batu Megalit adalah peninggalan leluhur kami sejak seribu tahun yang lalu. Ngadhu dan Bhaga adalah lambang nenek moyang kami. Kami tetap lestarikan keberadaan Megalit dan symbol-simbol adat kami dari zaman dulu hingga sekarang “. Inilah ucapan Mosalaki Deru Solomae, Eman Sebo ( 65 Thn), yang juga adalah Juru Kunci dan Pengelolah Perkampungan Bena, ketika ditemui wartawan NTT Expos, di kampung Bena, beberapa waktu lalu.

Eman Sebo, mengatakan, dalam perkampungan Bena terdapat simbol-simbol adat penting, berupa, Ngadhu, Bhaga, Saka Lobo, Ana Iye, Batu Nabe, makam para leluhur dan bebatuan besar peninggalan zaman batu yang disebut Batu Megalit.

Eman, menjelaskan, kampung Bena terletak di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada-foto-eman-sebo-urut-007Flores Nusa Tenggara Timur. Luas lokasi perkampungan ini, panjang 250 meter, lebar 150 meter. Dibagian Selatan dan Timur berbatasanlangsung dengan tebing yang curam, bagian barat berbatasan dengan tebing lereng Gunung Inerie, sedangkan dibagian utara berbatasan dengan bebukitan, yang merupakan jalan raya dari arah kota Bajawa. Pintu masuk ke perkampungan hanyalah dari bagian utara.Jarak kampung Bena dan Ibukota Kabupaten Ngada yakni Bajawa, sejauh 13 Kilometer, dan bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua.Jumlah rumah adat yang berada dalam kampung Bena sebanyak 40 unit, ada 60 keluarga yang area-kisanata-utama-benamenghuni kampung ini dan jumlah keseluruhan warga Bena adalah 700 jiwa lebih.

Walau Zaman semakin Moderen, Warga Kampung Bena tetap hidup sesuai adat istiadat murni peninggalan nenek moyang mereka dari zaman dulu. Mereka masih memegang teguh filosofi nenek moyang mereka. Berbagai kegiatan hidup dan adat, selalu dilakukan dengan bhaga-megalit-1persembahan-persembahan, antara lain, untuk pendirian rumah baru, penebangan pohon dihutan, selalu dilakukan dengan persembahan Kerbau. Tujuannya adalah, agar mendapat restu dari Sang Maha Kuasa, restu dari para leluhur dan terhindar dari amarah sang pemilik hutan sehingga pepohonan yang ditebang untuk bangunan rumah, bisa bertahan lama serta nyaman bagi yang menghuni rumah tersebut. Seluruh bangunan rumah-rumah adat dalam kampung ini, masih sangat tradisional dengan bahan-bahan kayu, atap ilalang dan ijuk serta bambu-bambu.

foto-beri-bena-urut-002Karena memiliki bebatuan Besar dari zaman Megalitikum, maka kampung Bena telah didaftarkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia ke UNESCO. Kampung ini disebut Kampung Bena karena yang mula-mula membentuk dan tinggal dalam kampung ini adalah Suku Bena. Karena Perkawinan dengan suku lain maka melahirkan suku-suku baru yang kini membentuk keseluruhan penduduk kampung Bena. Terjadi demikian karena penduduk Bena foto-batu-megalitlik-benamenganut sistem kekerabatan matriarkat.

“ Kami selalu menjalani hidup ini bersama budaya zaman batu yang teringgal sejak 1.200 tahun yang lalu ini. Dalam kampung kami terdapat 9 suku, yaitu: Suku Bena, suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Watho, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solomae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Beda antara satu suku dengan suku lain adalah, adanya tingkatan lokasi kampung sebanyak 9 tingkat. Setiap suku foto-kampung-bena-anak-anakada dalam satu tingkat ketinggian. Rumah suku Dan karena Suku Bena yang pertama menghuni di kampung ini, maka, rumah-rumah suku Bena berada ditengah-tengah lokasi perkampungan. Hal ini untuk menghormati suku tertua Bena “, ucap Eman dengan nada serius.

Semua bangunan rumah-rumah suku dibuat saling berhadapan dan memanjang dari utara hingga selatan. Ini pertanda semua suku hidup saling terbuka dan siap bergotong royong dalam berbagai kegiatan hidup. Setiap rumah Inti Suku terdapat rumah-rumah yang memiliki ukiran-ukiran khusus yang miliki arti mendalam tentang asal mula keadaan hidup leluhur kampung Bena. Setiap rumah Inti Suku disebut Sao Saka Meze.

Rumah Inti Nenek Moyang Laki-Laki disebut Sao Saka Lobo, dan rumah Inti Nenek Moyang Perempuan disebut Sao Saka Pu’u. Diatas bumbungan atap rumah inti Nenek Moyang Laki-Laki terdapat simbol patung orang berbalut Ijuk sambil memegang pedang dan lembing. Simbol ini disebut Saka Lobo.Sedangkan diatas bumbungan rumah Inti Nenek Moyang Perempuan, ada rumah kecil, yang foto-berita-bena-11disebut Bhaga.

Ditengah-tengah perkampungan, ada area yang luas seperti lapangan, yang disebut Kisanata. Kisanata adalah tempat adanya bangunan Ngadhu, Bhaga, Bebatuan Megalit, Makam para leluhur dan Batu Nabe. Lokasi yang disaebut Kisanata ini, juga merupakan tempat dilaksanakannya upacara-upacara Adat dan upacara-upacara Agama serta upacara-upacara penting lainnya.foto-berita-bena-12

Bangunan Bhaga bentuknya mirip pondok kecil. Bangunan Ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal, beratap ilalang dan serat ijuk. Bentuk bangunan seperti pondok peneduh atau mirip seperti payung. Tiang Ngadhu dipakai dari jenis kayu khusus dan keras karena tiang ini menjadi tempat mengikat dan menggantung hewan kurban saat dilakun upacara – upacara penting dan pesta adat.

Bebatuan Megalitik terletak tegak berdiri berdekatan dengan Ngadhu dan Bhaga. Dalam kumpulan foto-berita-bena-15-bhagabebatuan megalit, ada batu Nabe yang berbentuk plat. Dibawah batu Nabe ini terdapat kuburan-kuburan para leluhur terdahulu mereka.

“ Saat mengurus masalah penting warga Bena, para tokoh adat selalu duduk diatas batu Nabe, dengan maksud, agar apa yang diputuskan, didengar dan mendapat restu dari para leluhur kami “, ucap Eman sambil menunjuk ke arah batu Nabe.

foto-ukiran-dlm-rumah-adatPada setiap rumah Inti Suku atau Sao Saka Meze, terdapat ukiran-ukiran Ayam, Kuda, Tanduk Kerbau dan ukiran-ukiran berbentuk hewan lainnya. Ukiran Ayam melambangkan keperkasaan dan kemuliaan, sebab kokok ayam jantan pada setiap subuh untuk membangunkan manusia agar memulai mencari hidup dihari yang baru. Gambar Kuda melambangkan Kekuatan dan keberanian untuk mencari hidup agar menjadi lebih baik. Sedangkan wrga-bena-001-urut-foto-008Gambar Tanduk Kerbau melambangkan mempu memikul beban hidup atau tanggungjawab hidupo keluarga serta rela berkorban demi hidup keluarga, sebab kerbau selalu dipakai untuk memuat barang perkebunan, membajak sawah dan disembelih menjadi korban upacara-upacara adat mereka.

Zaman Dulu, para leluhur Bena, mengatakan, bahwa di puncak Gunung Inerie, bersemayamnya Dewa Zeta, yang diyakini sebagai Pelindung mereka. Hal itu sangat dihormati kisanata-1oleh Generasi Bena. Dewa Zeta dianggap sebagai Penguasa Kehidupan mereka,yakni Sang Maha Kuasa. Dan kini, mayoritas penduduk Bena menganut Agama Katolik.

Mata pencaharian warga Bena adalah berkebun dan beternak. Dan untuk membentu ekonomi keluarga, kaum ibu-ibu dan remaja putrid Bena, melakukan tenun ikat. Hasil perkebunan mereka yang paling banyak adalah, kakao, kemiri, cengkeh. Hasil ternak mereka adalah, Sapi, Kerbau, Babi, Kambing dan Ayam.

Tenun ikat yang diulakukan kaum perempuan Bena cukup indah, dengan motif kuda, motif Gunung Inerie dan Garis-garis memanjang yang bersimbolkan, kuda sebagai pekerja keras, Gunung adalah impian hidup sejahtera dan garis lurus adalah hidup yang lurus, benar dan jujur. Kain-kain hasil tenunan mereka sangat digemari oleh para wisatawan yang selalu berkunjung ke kampung Bena. Hasil-hasil foto-berita-23ekonomi yang diperoleh digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak mereka.

“ Kami selalu bertenun dari pagi hingga malam. Kain yang kami buat adalah kain dari bahan Organik, yakni campuran akar dan dedaunan pohon khusus yang bisa menghasilkan warna kuning, Merah, nila dan hijau. Untuk mendapati warna asli, perlu waktu yang cukup lama. Empat hari bertenun baru bisa menghasilkan satu kain asli”, ucap Ny. mery-dan-shanty-penenunMaria Molle ( 50 tahun), warga asli dari suku Bena.

Ada juga kain-kain yang dibuat dari benang warna jadi ( warna dari bahan kimia), yang dilakukan untuk membuat selendang dan cendramata buat para pengunjung. Kain tenun bahan kimia ini lebih cepat dibuat kain sebab warna benang sudah ada dan hanya tinggal di tenun saja. “ kalau tenun kain dari bahan jadi atau warna bahan kimia, bisa cepat, tetapi kalau kain asli dari bahan organik memang foto-berita-bena-14harus sabar karena lama baru jadi satu kain asli “, ucap penenun, Mery Nagho ( 50 Tahun) dan Shanty Nagho ( 15 Tahun).

Menurut Moses Sabha ( 68 tahun), yang adalah Mosalaki One Woe suku Dizi Azi, mengatakan, tenun tradisional dan kegiatan tradisi kampung bena akan selalu diwariskan kepada anak cucu mereka, sehingga walau zaman semakin modern, anak-anak Bena tetap mengetahui tradisi Bena dan sebagai generasi Bena, mereka akan mampu menjaga tradisi yang ada.

Kampung Bena ini, juga di sebut Kampung Megalitikum sebab masih terjaganya bebatuan megalitik yang tegak berdiri dari zaman ke zaman serta tradisi hidup warganya yang masih tetap tradisional dan tidak tersentuh dengan pengaruh zaman modern ini. Walau warga Bena sudah banyak yang berpendidikan tinggi, tetapi mereka tidak memiliki niat untuk merobah tata cara hidup dan tradisi budaya peninggalan leluhur mereka. Bahkan bersama para tua adat, warga yang sudah berpendidikan tinggi itu, bekerjasama untuk tetap melestarikan adat dan tradisi yang ada.

Pesta adat yang besar adalah Pesta Reba. Pesta Reba adalah ucapan syukur atas berkat rejeki yang diberikan Tuhan Maha Kuasa kepada rakyat Bena, selama satu tahun menjalani kehidupan. Sedangkan upacara dan pesta adat lainnya dilakukan sesuai kebutuhan, seperti masuk minang, pembuatan rumah adat, jika rumah yang ada sudah rusak.

“ Pada setiap tanggal 27 Desember, kami selalu melakukan pesta Reba. Pesta ini diawali dengan Misa Syukur secara Katolik, kemudian ritual-ritual adat dilakukan sesuai aturan turun temurun dari nenek moyang kami”, ucap Eman Sebo.

foto-berita-25-puncak-inerieKampung Bena, berada tepat di Lereng Gunung Inerie. Udara wilayah Bena amat sejuk dan selalu dibaluti kabut dingin. Alamnya sangat subur. Tinggi Gunung Inerie 2.245 meter dari permukaan laut. Jika kita menuju puncak bukit Manulalu daerah Mangulewa, maka dari ketinggian, kita bisa melihat dengan jelas keberadaan kampung Bena yang terletak di Lereng Gunung Inerie serta kita bisa melihat dari kaki hingga puncak gunung Inerie yang berbalut kabut putih. Panorama alam Inerie yang subur menghijau, dapat foto-berita-bena-13dilihat dengan jelkas dari area Home Stay bukit Manulalu

Sepanjang perjalanan dari Kota Bajawa, menuju kampung Bena, kita akan melihat panorama alam yang sejuk, lembah dan ngarai yang membentak serta puncak Gunung Inerie yang indah. Perjalan menuju kampung Bena berjarak 13 Kilometer dari Terminal Watujaji Bajawa. Ke Bena dapat ditempuh dengan kendaraan angkutan umum maupun kendaraan lain.

foto-berita-urut-009Sesampai di pintu masuk kampung, petugas akan mengalungkan selendang adat dileher para pengunjung sebagai tanda menyatu dengan tradisi Bena untuk mengunjungi keadaan hidup orang-orang Bena yang masih sangat Tradisional.

Menurut Pengelolah Perkampungan Bena, Emanuel Sebo ( 65 Tahun), dari bulan januari sampai Juni, setiap hari, kampung bena dikunjungi oleh 80 lebih orang wisatawan luar negeri. Sedangkan pada bulan Juli sampai desember, setiap hari dikunjungi oleh 100 lebih orang kampung-bena-foto-berita-u001turis dari manca Negara, yaitu, Italia, Jerman, Denmark, Belanda dan lain-lainnya.

“ Musim boleh berganti, Zaman boleh berubah, kami tetap selalu menjaga dan melestarikan tradisi budaya peninggalan leluhur kami “, ucap Eman Sebo, menutup perbincangan dengan Wartawan NTT Expos. Maria Yessi A.Putri . ( NTTEXPOS.COM).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: